| Malu, ah!(Roma 1:16-17) | |
| Kala berbincang dengan rekan nonkristiani, saya biasa memperkenalkan diri sebagai penulis, penerjemah, dan penyunting—tanpa menyinggung aktivitas pelayanan di gereja. Apabila ditanyai buku apa yang saya tulis, saya cenderung menjawab secara umum, “Macam-macam—ada humor, fiksi, artikel, ulasan film … dan juga renungan.” Saya pun baru menyodorkan kartu pendeta untuk keperluan strategis: mendapatkan diskon biaya sekolah atau ongkos pengobatan. Singkatnya, saya tergolong lebih suka tidak mencerita¬kan identitas iman saya. Jelas, saya perlu belajar dari Paulus, yang ”tidak malu terhadap Injil” (ayat 16 TBR). Terjemahan Baru LAI menyebutkan, ia mempunyai ”keyakinan yang kokoh dalam Injil”. Ia menyadari betul hakikat dan kekuatan Injil untuk menyelamatkan manusia berdosa. Meskipun menghadapi berbagai penganiayaan dan penindasan, dengan penuh keyakinan ia memberi-takannya setiap kali ada kesempatan. Barangkali ia juga pernah merasa gentar, tetapi hal itu tidak menjadikannya undur. Kepada jemaat di Efesus ia meminta, ”(Berdoalah) juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara” (Efesus 6:19,20). Apakah Anda, seperti saya, mengalami kesulitan dalam bersaksi tentang Injil? Bagaimana kalau kita mencari satu atau beberapa orang saudara seiman, dan saling mendoakan seperti permintaan doa Paulus di atas? PENGERTIAN AKAN HAKIKAT BERITA INJIL | |
| Penulis: Arie Saptaji | |
Sekedar berbagi pengalaman hidup seputar iman terhadap Yesus Kristus menurut ajaran agama Katolik
Selasa, 08 Maret 2011
Selasa 8 Maret 2011: Malu ah
Senin, 07 Maret 2011
Senin 7 Maret 2011: Diburu tetap bersyukur
| Diburu, Tetap Bersyukur (Mazmur 57) | |
| Ada banyak hal yang bisa membuat tempat kerja tidak menyenangkan. Mungkin sang atasan yang bersikap otoriter, atau gemar merendahkan bawahan. Atau, rekan kerja yang suka bergosip, menggunjingkan teman sendiri. Atau, senior yang suka menekan. Atau, alasan lain yang lebih khusus. Jika Anda merasa demikian, mari belajar dari Daud. Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul menarik untuk Mazmur 57: “Diburu Musuh, tetapi Ditolong Allah”. Mazmur ini ditulis ketika Daud diburu Saul dan harus melarikan diri ke gua-gua. Ketika itu Daud berseru memohon belas kasihan Allah (ayat 2-4). Ia menceritakan kesulitan yang ia hadapi (ayat 5,7). Dan, yang menjadi kunci kemenangan Daud adalah: ia terus ber-syukur serta berharap kepada kemuliaan, kasih setia, dan kebaikan Tuhan (ayat 6,7-12). Kita mungkin tidak diburu musuh, tetapi diburu atasan yang otoriter, rekan kerja yang tidak mau bekerja sama, atau hal-hal lain yang membuat kita tak nyaman bekerja. Sikap mengomel, menyalahkan keadaan, dan memprotes tidak akan memperbaiki keadaan, bahkan kerap kali justru memperburuk. Ketika kita “diburu” hal-hal demikian, contohlah Daud. Ia berseru kepada Tuhan dan mengandalkan Dia. Ia bersyukur dan berharap pada kasih setia Tuhan. Pada waktu-Nya, Dia mengangkat Daud menjadi Raja Israel. Kalau Tuhan sanggup menolong Daud, tentu Dia sanggup menolong kita juga. Namun, sudahkah kita mencontoh sikap Daud? Tetap bersikap benar, menjagai hati, dan terus memuliakan Tuhan di tempat kerja? Tidak berkecil hati, dan tetap berpaut kepada Tuhan? TEMPAT KERJA ADALAH LADANG DI MANA TUHAN MEMINTA KITA | |
| sumber: renunganharian.net - Grace Suryani -Christ & Sylvia | |
Sabtu, 05 Maret 2011
Sabtu 5 Maret 2011: Sungai yang kering
| Sungai yang Kering (Wahyu 2:1-5) | |
| Setiap kali ke kampung halaman Papa, kami harus melewati sebuah sungai. Saya ingat, waktu SD saya harus menyeberangi sungai itu dengan sangat hati-hati karena sungai itu begitu lebar dan airnya sangat deras. Namun, kini sungai itu telah kering. Sungai itu—kata para penduduk—perlahan-lahan semakin dangkal, sampai kini tampak seperti badan jalan saja. Hanya batu-batu besar yang masih ada menjadi pertanda bahwa dulu di tempat itu pernah ada sebuah sungai besar. Hidup rohani kita juga bisa “mengering”. Tadinya, jemaat Efesus begitu taat dan bekerja sungguh-sungguh untuk Tuhan. Bahkan, mereka rela menderita dan tak kenal lelah melakukan pelayanan (ayat 2,3). Namun Tuhan mencela mereka, karena mereka menjadi “kering” (ayat 5). Mereka menganggap diri hebat, paling benar, paling suci. Mereka terjatuh dalam kesombongan rohani dan kehilangan kasih mula-mula. Itu sebabnya, Tuhan mendesak mereka bertobat dan kembali pada kasih yang semula. Kekeringan rohani bisa melanda siapa saja. Jemaat Efesus adalah buktinya. Proses itu biasanya berlangsung perlahan, seperti sungai kenangan saya—yang perlahan mendangkal dan akhirnya mengering. Kekeringan rohani itu bahkan bisa terjadi tanpa disadari. Dan, kita bisa mengalami kejatuhan yang amat dalam. Mari periksa kondisi rohani kita saat ini. Perhatikanlah, apakah kita masih bersukacita penuh atas hidup kita, pelayanan kita, dan doa-doa kita? Apakah kita masih bisa menikmati pujian dan penyembahan kita? Apakah hati kita nyaman beribadah dalam hadirat-Nya? Jika ada “sesuatu” yang terasa berbeda, segera temukan lagi semangat rohani kita agar tidak ”telanjur mengering” JANGAN BERHENTI MEMERIKSA KESEHATAN ROHANI KITA AGAR KITA DIDAPATI TERUS HIDUP DAN BERTUMBUH DI DALAM TUHAN | |
| sumber : www.renunganharian.net - Fotarisman Zaluchu -Christ & Sylvia | |
Kamis, 03 Maret 2011
Jumat 4 Maret 2011: Pembicara dan pendengar
Mrk.10:46-52;
“Banyak orang ingin menjadi pembicara ulung
daripada pendengar yang setia”
Renungan hari ini lebih sebagai sebuah pengajaran daripada sederet kata-kata indah dan sejuk di hati yang mengajakmu untuk bermenung. Akan tetapi, semoga dengan cara ini pun Anda mampu merenungkan tentang apa yang Anda telah buat dan sedang buat saat ini dalam hidup dan dalam doa-doamu.
Banyak orang terlalu yakin bahwa hanya imanlah yang dapat menyelamatkannya sehingga mengabaikan peranan perbuatan. Salah satu ayat yang mereka gunakan untuk membenarkan diri dan keyakinan mereka adalah apa yang tertulis dalam bagian terakhir dari Injil hari ini ketika Yesus berkata kepada Bartimeus; “Pulanglah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Mengajakmu untuk berdiskusi dan berdebat dalam renungan pagi ini tentunya bukan hal yang bijaksana, tetapi sekedar mengingatkanmu bahwa si buta Bartimeus harus menahan rasa malu dan marah ketika orang-orang di sekitarnya memaksannya untuk diam tapi ia terus berteriak; “Jesus, anak Daud, kasihanilah aku.” Banyak orang lupa bahwa si buta Bartimeus harus berdiri dan berjalan dalam kebutaannya untuk mendapatkan Yesus. Dengan dua hal itu saja, Anda sudah bisa diyakinkan bahwa Anda sedang meyakini sebuah ajaran indah dari Gereja yang satu, kudus, Katolik dan Apostolik, bahwa sesungguhnya iman bukanlah sesuatu yang pasif, melainkan sebuah daya kekuatan yang selalu menggerakkan kita untuk bukan saja berteriak, ‘Tuhan, kasihanilah aku, tapi kita pun harus berdiri, berjuang berjalan kepada Yesus seperti Bartimeus.
Hal lain yang pantas direnungkan dalam bacaan Injil hari ini yakni banyak kali dalam doa-doa kita kecenderungan untuk memerintah daripada pasrah pada kehendak Tuhan kita lakukan. Lagi, pengalaman si buta Bartimeus dijadikan sebagai dasarnya; Bartimeus bilang; “Tuhan, aku ingin melihat.” Akan tetapi, orang lupa bahwa jawaban Bartimeus muncul sebagai reaksi atas permintaan Yesus; “Apa yang engkau mau aku perbuat untukmu?” Banyak orang tergoda untuk memanfaatkan “diamnya Tuhan” untuk berbicara banyak dan mengatur Tuhan mengikuti kehendak mereka, daripada berdiam diri bersama-Nya dan membiarkan Dia berbicara di kedalam hati mereka. Sta. Faustina, rasul kerahiman Ilahi mengingatkan kita akan hal ini ketika ia berbicara tentang sikap para imam tidak bisa menampakkan ketenangan di dalam hidup dan pelayanan mereka. Ia berkata; “Imam yang tak memiliki ketenangan, tidak akan mendatangkan ketenangan bagi jiwa yang meminta nasehat kepadanya. Hai para imam! Kamu seperti lilin yang bernyala, kamu yang memberi terang kepada jiwa-jiwa, semoga cahayamu tak pernah suram.”
Peringatan orang kudus ini hanya mau mengatakan bahwa “ketika kita banyak berbicara maka kita tidak akan pernah membiarkan Tuhan berbicara di dalam hati kita, atau kendatipun Ia berbicara maka kita tidak akan mampu mendengarkan Dia dengan baik.” Dengan kata lain, ketika kita banyak berbicara di dalam doa kita, maka kita akan membiarkan Tuhan diam seribu bahasa karena Ia harus merelakan Diri-Nya menjadi seorang pendengar setia dari kita yang sedang berbicara.
Oleh karena itu, bila Anda memiliki kesempatan hari ini untuk diam, maka baiklah datang ke hadirat Tuhan, menenangkan jiwa dan raga untuk membiarkan Tuhan berbicara kepadamu. Aku yakin bahwa bila pun Ia tidak bisa berbicara karena harus mendengarkan keluh kesahmu, maka Tuhan pun rela untuk menjadi pendengar ketika engkau sedang berbicara banyak hari ini kepada-Nya. Iya, banyak kali kita membuat Tuhan menjadi pendengar daripada pembicara. Dan sungguh sangat terpuji bahwa Tuhan pun mau menjadi pendengar bagimu.
dikutip dari renungan Facebook : Gereja Katolik
- Christ & Sylvia
Rabu, 02 Maret 2011
Kamis, 3 Maret 2011: Menara yang dibangun
| Menara yang dibangun (1 Raja-raja 6:1-13) | |
| Burj Khalifa di kota Dubai, Uni Emirat Arab, adalah gedung tertinggi di dunia yang diresmikan pada 4 Januari 2010. Dibangun dengan dana mencapai kira-kira 13,5 triliun rupiah, gedung ini memiliki tinggi 828 meter dan terdiri dari 160 lantai. Konon karena tingginya yang luar biasa, gedung ini terlihat dari jarak 100 kilometer. Dan, dari puncak gedungnya kita dapat melihat negara Iran. Sungguh suatu pencapaian yang mengagumkan! Namun, jauh sebelum Burj Khalifa berdiri, manusia sudah pernah berusaha membangun gedung yang terbesar dan termegah. Dua di antaranya adalah menara Babel dan Bait Allah. Menara Babel didirikan tak lama setelah peristiwa air bah, sebagai usaha manusia untuk “mencari nama” bagi dirinya sendiri (Kejadian 11:1-9). Suatu lambang keangkuhan manusia yang ingin terlepas dari Allah. Di sisi lain, Bait Allah dibangun di Yerusalem sebagai simbol kehadiran Allah di tengah bangsa Israel. Kemegahannya mengingatkan manusia akan kemuliaan Tuhan. Kehadirannya mengingatkan bahwa bangsa Israel dibawa keluar dari Mesir untuk menjadi umat-Nya, menyatakan kemuliaan-Nya kepada semua bangsa. Dalam upaya kita mengejar keberhasilan dalam hidup, jangan sampai kita membangun Menara Babel, bukannya Bait Allah. Jangan sampai diri kita yang paling dipuji dan dimuliakan karena kejayaan pribadi. Namun, arahkan orang agar memuji Tuhan yang telah memberikannya. Ini dapat dilakukan dengan pertama-tama tidak malu mengakui iman kita. Lalu, menjadi saksi bahwa keberhasilan kita adalah anugerah-Nya semata, bukan kehebatan kita. Sehingga, yang layak dipuji bukanlah kita, melainkan Tuhan KESUKSESAN KITA ADALAH KESEMPATAN UNTUK SEMAKIN MEMULIAKAN TUHAN | |
| sumber: renunganharian - Alison Subiantoro - Christ & Sylvia | |
Rabu, 2 Maret 2011 Sahabat dan melayani
Bacaan: Mrk.10:32-45
Di halaman tengah lembaran buku harian sahabatku tertulis:
“Kawan, kalau engkau mau memberi nyawa untuk Tuhan dan sesamamu
di zaman ini maka aku belum terlalu yakin.
Akan tetapi, satu hal yang tidak akan kupercaya sebagai seorang sahabat yakni
ketika engkau tidak rela untuk melayani.”
Dengan terpaksa aku harus mengingatkan teman romo hanya karena dia tidak mau membawa gelas minumnya dari ruang rekreasi ke tempat cuci yang hanya berjarak sekitar 2 meter darinya. Kan ada pembantu, jawabnya ketika aku memintanya untuk membawa gelas itu ke tempat cuci. Secara tidak sadar banyak orang tidak mau berbuat sesuatu yang dapat diperbuatnya hanya karena pekerjaan itu adalah tugas pelayan atau pembantunya. Masakan kotoran anjing di depan pintu itu dibiarkan berhari-hari lamanya hanya karena pembantu rumah sementara sakit? Pasti contoh-contoh di atas terlalu ekstrim tapi secara tidak sadar kita kadang melakukannya.
Sepertinya para murid belum puas akan jawaban Sang Guru kemarin ketika Petrus menuntut apa yang mereka terima bila sudah mengikuti Yesus sebagai murid-Nya. Hari ini Yakobus dan Yohanes datang lagi kepada-Nya dan meminta sesuatu; “Guru, jikalau boleh nanti kami berdua bisa duduk di sisi-Mu, yang satu di sebelah kiri dan yang lain di sebelah kanan.” Inti jawaban Yesus ada pada bagian terakhir Injil hari ini; “Jika engkau ingin menjadi yang terbesar di antaramu maka hendaklah engkau menjadi pelayan.” Bagaimana mungkin menjadi besar dengan hanya menjadi seorang pelayan? Yesus tidak berbicara tentang posisi atau jabatan, melainkan pada sikap hati seseorang terhadap apa pun status dan jabatannya dalam masyarakat atau di tengah umat. Ada bos yang baik hati seperti perwira di dalam Kitab Suci yang datang kepada Yesus dan meminta untuk menyembuhkan hambanya yang sedang sakit, tapi ada juga tuan yang tidak bisa minum air hanya karena gelas kesayangannya tidak ditemukan di tempatnya.
Jika hari ini kita semua ditawarkan bacaan ini untuk direnungkan maka kiranya luangkanlah waktumu barang sejenak untuk memulai dari rumahmu, berbuat apa yang bisa Anda perbuat kendatipun itu adalah tugas atau pekerjaan pembantumu, atau pekerjaan istrimu. Bukankah istrimu akan merasa terharu jika sebagai seorang suami Anda bangun esok pagi dan memanaskan air atau menggoreng nasi sebagai sarapan pagi? Bukankah suamimu akan memeluk dan menciummu hanya karena engkau membuat sesuatu yang biasanya hanya ia kerjakan sebagai seorang suami? Bukankah para pembantumu akan tersipu malu dan bangga padamu hanya karena engkau bangun mendahuinya dan mencuci piring kotor di rumahmu? Saudaraku, martabatmu bukan diukur dari jabatan atau posisimu, pun bukan dari harta atau uang yang Anda miliki, melainkan pada hatimu yang mampu melayani orang lain dengan segala yang Anda miliki dalam hidupmu. Oleh karena itu, berjuanglah agar orang menghormatimu bukan karena apa yang Anda miliki atau bukan karena jabatan dan kedudukanmu, tetapi karena Anda memiliki hati yang mampu mencintai dan melayani, yang bisa membuat semua yang Anda miliki bermakna dan berarti dalam hidup orang lain. Dengan kata lain, penghormatan kepadamu bukan karena segala yang melekat dalam dirimu, melainkan dari pengenalan orang akan kepribadianmu sebagai seorang saudara, sebagai seorang pelayan.
Jika Anda belum menangkap ide di atas maka baiklah kita belajar dari Sang Guru, yang telah menjadikan Diri-Nya sebagai seorang hamba, dengan mencuci kaki para murid-Nya yang biasanya kita peringati pada hari Kamis Putih. Aku yakin bahwa cita-cita Yesus adalah melayani. Harga yang harus dibayar untuk menggapai cita-cita ini adalah nyawa-Nya sendiri. Dan, ini, Yesus telah telah buat untuk saudara dan saya. Inilah bedanya Yesus dengan kita; Yesus ingin membahagiakan orang lain dengan memberi Diri-Nya, tapi kadang demi kebahagiaan diri kita, orang lain harus dikorbankan. Yesus mendapatkan pengakuan akan keluhuran martabat-Nya ketika Ia berkorban untuk saudara dan saya, tapi kadang kita ingin menggapai martabat kita ketika mempermalukan orang lain?
Karena itu, aku hanya ingin meningatkanmu sebagai saudaraku; Manusia zaman ini membutuhkan pemimpin yang tidak menolak tanggung jawab melainkan mau dan rela bertanggung jawab demi membuat perbedaan dalam hidup orang lain....pemimpin yang memperjuangkan nasib mereka yang dipimpin...pemimpi yang bermimpi dengan harapan dan ingin mewujud-nyatakan mimpinya demi kebahagian orang lain...pemimpin yang berbicara benar, yang mengatakan apa yang dia maksudkan dengan jelas dan memaknai apa yang dia katakan. Saudaraku, tidak ada yang hilang ketika kita mampu melayani orang lain dengan semangat seorang hamba. Ingatlah selalu akan nasehat Sang Guru; “Aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawaku bagi banyak orang.” Memberi nyawa hanya bisa dilakukan oleh seorang pemberani yang rendah hati, tapi untuk melayani sebagai seorang hamba, masakan tidak bisa Anda lakukan saat ini? Aku tidak akan pernah percaya bila engkau tak mampu melayani. Mulailah dari dalam dirimu, rumahmu, maka cahayamu akan keluar lewat jendela dan pintu, bahkan akan menembus tembok pembatas, dan akan menyinari hidup orang lain di sekitarmu.
dari renungan Facebook : Gereja Katolik
-Christ & Sylvia
Selasa, 01 Maret 2011
Selasa 1 Maret 2011 Perubahan
| Perubahan (Roma 8:12-17) | |
| Ada sebuah lagu dengan isi liriknya demikian: Sedikit demi sedikit/Tiap hari tiap sifat/Yesus mengubahku/Sejak ku t’rima Dia/tumbuh dalam anugrah-Nya/Yesus mengubahku. Lagu ini mengajarkan sebuah kebenaran bahwa kita harus mengalami perubahan dalam hidup kita. Semakin hari kita harus terus berubah untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Dan, perubahan tersebut bukan hasil usaha kita, melainkan anugerah Yesus Kristus yang mengubah kita. Sejak kapan? Sejak kita menerima Dia sebagai Juru Selamat pribadi kita. Rasul Paulus—dalam suratnya kepada jemaat di Roma—sesungguhnya sudah mengingatkan kita akan hal ini. Sebagai anak Allah, kita harus memiliki sifat-sifat Allah. Caranya, kita harus terlebih dahulu menerima Roh Kudus (ayat 15). Lalu, hidup di dalam kuasa-Nya dan rela dipimpin Roh Kudus (ayat 13), dengan cara mematikan perbuatan dosa dalam hidup kita dan mengikuti bimbingan-Nya. Dan, yang terakhir sebagai ganjarannya kita akan diangkat menjadi ahli waris-Nya dan berhak menerima janji-janji-Nya. Kembali pada lagu di atas, bagian refrein dari lagu tersebut mengatakan demikian: Dia ubahku/Oh Juru S’lamat/Ku tidak seperti yang dulu lagi/Meskipun tampak lambat/Tapi ku tahu/Ku makin sempurna nanti. Ketika Tuhan mengubahkan hidup kita, maka kita tidak akan sama seperti dulu. Status kita sudah berubah. Sekarang kita adalah anak-anak Allah, karena itu hendaknya kita hidup sebagai anak-anak Allah. Perubahan itu bukan proses sekali jadi, tetapi kita harus yakin bahwa kita sedang menuju kesempurnaan sebagai anak Allah INTI DARI KEKRISTENAN ADALAH MENGALAMI PERUBAHAN SEMAKIN HARI SEMAKIN SEMPURNA SEPERTI KRISTUS | |
| sumber: www.renunganharian.net - Riand Yovindra -Christ & Sylvia | |