| Biblioburro (Keluaran 33:7-11) | |
| Bertahun-tahun ini Luis Soriano (38 tahun), seorang guru pria dari kota Magdalena, Kolombia, dengan setia menjalankan biblioburro—perpustakaan di atas keledai, ke daerah-daerah terpencil. Ia membawa ratusan buku di punggung dua keledainya, agar anak-anak di daerah pinggiran dapat belajar membaca, terbantu mengerjakan PR, dan mengenal dunia. Padahal untuk mencapai anak-anak itu, ia harus berjalan empat jam sekali jalan, dengan berbagai risiko. Hingga kini, sekitar 4.000 anak telah mendapat manfaat dari program biblioburro yang Soriano jalankan sejak 1990. Juga ratusan orangtua dan orang dewasa yang ikut belajar di situ. Musa—juga adalah seorang guru bagi Yosua. Musa banyak mengajari Yosua, dengan mengikutsertakannya dalam pengalaman Musa. Termasuk ketika Musa bertemu dengan Allah di Kemah Pertemuan, Yosua pun ada di situ (ayat 11). Ya, sebagai pemimpin yang dihargai Allah dan disegani seluruh umat Israel (ayat 8,10), Musa sadar ia tidak dapat terus ada bersama-sama Israel. Sementara, pekerjaan Tuhan harus terus berlangsung. Itu sebabnya, membimbing Yosua adalah salah satu tugas pentingnya. Inilah peran mulia guru. Mewariskan sebaik mungkin segala pengetahuan dan pengalamannya, demi keberlangsungan hidup masa depan yang lebih baik. Untuk itu, guru bahkan mesti berbagi hidup dengan murid-muridnya. Mereka berkorban, seperti Soriano. Mereka setia membimbing, seperti Musa. Mari hargai setiap orang yang berperan sebagai guru bagi kita, pada hari spesial pendidikan ini. Kiranya Tuhan memperbarui semangat dan kemampuan setiap guru—untuk memberi lebih! GURU YANG BAIK TIDAK MENGUMPULKAN ILMU UNTUK DIRI SENDIRI TETAPI MENERUSKANNYA AGAR KEHIDUPAN MASA DEPAN LEBIH BAIK | |
| sumber: renunganharian.net - Agustina Wijayani | |
Sekedar berbagi pengalaman hidup seputar iman terhadap Yesus Kristus menurut ajaran agama Katolik
Senin, 02 Mei 2011
Senin 2 Mei 2011: Bublioburro
Minggu, 01 Mei 2011
Minggu 1 Mei 2011: Sabat untuk manusia
| Sabat untuk Manusia (Markus 2:23-28) | |
| Tuhan mencipta manusia segambar dengan-Nya. Maka, seperti Allah beristirahat setelah 6 hari mencipta, manusia juga butuh istirahat setelah 6 hari bekerja, untuk memulihkan kesegaran jasmani dan rohaninya. Namun orang Farisi mengartikan lain. Mereka komplain ketika murid Yesus memetik gandum pada hari Sabat. Para murid dianggap melanggar Sabat seperti ketentuan para Farisi, tetapi sesungguhnya tidak menurut Taurat. Yesus tak pernah membatalkan Sabat. Justru Dia berupaya meletakkan fungsi Sabat yang sesuai maksud Allah. Yakni untuk menyejahterakan manusia, bukan membebaninya. Sabat mengingatkan manusia akan Allah Penciptanya, yang memberinya tanggung jawab mengelola ciptaan-Nya selama 6 hari. Agar pada hari ke-7 manusia dapat beristirahat, menikmati jerih lelahnya (Pengkhotbah 2:22,24), dan memulihkan kesegaran relasi dengan Allah dan sesama, sehingga seluruh hidupnya dipenuhi ucapan syukur. Bagi Israel, Sabat juga mengingatkan akan pembebasan Allah dari Mesir dan masuknya mereka ke Kanaan, negeri perjanjian (Ulangan 5:15). Mengabaikan Sabat berarti mengabaikan Allah, Pencipta yang memelihara dan menyelamatkan manusia. Menikmati ciptaan tanpa memedulikan penciptanya membuat manusia mengilahkan materi dan dirinya sendiri. Inilah dosa terbesar. Kedatangan Kristus membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan hukum buatannya sendiri, yang membelenggunya. Apakah Anda masih diperbudak pekerjaan demi mengejar materi dan pemuasan nafsu jasmani? Datanglah kepada Yesus Sang Pembebas. Belajarlah kepada-Nya agar Anda mampu menikmati hidup sebagaimana yang Allah mau. TUHAN MENGADAKAN SABAT UNTUK DINIKMATI BUKAN AGAR ANAK-ANAK-NYA TERBEBANI | |
| sumber: renunganharian.net - Susanto, S.Th. - Christ & Sylvia | |
Kamis, 28 April 2011
Kamis, 28 april 2011: Sesumbar Voltaire
| Sesumbar Voltaire (Matius 24:3-14) | |
![]() Dua belas nelayan Yahudi yang bodoh memulai kekristenan; satu orang Prancis yang bijaksana akan menghentikannya.” Ini pernyataan filsuf Prancis, Voltaire, saat menghadap Raja Prusia. Ia memperkirakan bahwa dalam waktu 100 tahun Alkitab akan musnah, dan 92 buku karyanya akan menggantikannya. Namun, 20 tahun setelah kematiannya, Lembaga Alkitab Jenewa membeli rumah peninggalannya untuk dijadikan tempat mencetak Alkitab. Rumah itu kemudian menjadi markas Lembaga Alkitab Bahasa Inggris dan Bahasa Asing. Selain itu, Alkitab terus menjadi buku laris; adapun 6 jilid karya Voltaire pernah terjual hanya seharga delapan ribu rupiah. Yesus mengajarkan bahwa sebelum Dia datang kembali untuk kedua kali, kabar baik tentang Kerajaan-Nya, yaitu berita keselamatan, akan dikabarkan ke seluruh dunia. Injil yang penuh anugerah itu akan membawa kita ke dalam Kerajaan-Nya yang mulia. Sebagai kesaksian bagi semua bangsa, Injil menyatakan pikiran dan kehendak Allah bagi manusia, serta upah Allah bagi mereka yang setia. Bagi mereka yang percaya, Injil mendatangkan keselamatan. Adapun mereka yang bersikeras tidak percaya, akan dibinasakan. Tuhan Yesus memercayakan misi pemberitaan Injil kepada para murid-Nya, dan orang percaya sepanjang sejarah gereja telah melanjutkannya. Tidak ada yang sanggup menghentikan misi yang sekarang ada di pundak kita ini. Kita dapat turut memberitakan Injil ketika Tuhan membukakan kesempatan dan juga dengan mendukung proyek penterjemahan Alkitab atau pelayanan yang melakukan penyebarluasan Alkitab. AMANAT PEMBERITAAN INJIL BUKANLAH BEBAN MELAINKAN KEHORMATAN UNTUK TURUT DALAM MISI PENYELAMATAN | |
| sumber: renunganharian.net - Arie Saptaji - Christ & Sylvia | |
Rabu, 27 April 2011
Rabu 27 April 2011: Pantaskah?
| Pantaskah? (Amsal 31:1-9) | |
| Sari berang. Istri pendeta tadi menegurnya di gereja, karena ia mengenakan kaus dan rok mini ketika mengikuti ibadah Minggu. “Kita perlu berpakaian pantas saat beribadah,” kata istri sang pendeta. Di dalam hati Sari mengumpat, “Apanya yang tidak pantas? Tidak bolehkah aku mengikuti perkembangan mode? Apakah menurut Alkitab, memakai rok mini itu dosa?” Pantas artinya cocok, sesuai, patut, atau layak. Berbicara soal kepantasan tidak selalu berkaitan dengan dosa. Ini menyangkut hikmat dalam membawa diri, sesuai dengan status dan lingkungan. Di Israel, misalnya, tidak ada larangan bagi raja untuk meminum anggur. Rakyat jelata pun biasa minum anggur sampai mabuk guna melupakan sejenak susahnya hidup (ayat 6,7). Dalam pesta perjamuan raja, minum anggur adalah hal biasa. Namun, Lemuel dinasihati ibunya untuk tidak meminum anggur. “Tidaklah pantas bagi raja meminum anggur,” katanya. Mengapa? Minuman keras bisa memabukkan. Jika seorang kepala negara mabuk, ia tidak dapat memutuskan perkara dengan benar dan adil. Akibatnya, rakyat bisa menjadi korban ketidakadilan dan penindasan! Bicara soal kepantasan bukan melulu mempersoalkan benar-salahnya suatu tindakan. Ada hal yang tidak salah, tetapi tidak pantas dilakukan oleh seorang dengan status atau jabatan tertentu. Orang bisa tersandung jika melakukannya. Setiap kita berstatus “orang kristiani”. Sebagian lagi bahkan pemimpin kristiani. Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri: Sudahkah saya bersikap, berperilaku, berbicara dan berpenampilan pantas, sesuai status yang saya sandang? HANYA ANAK KECIL YANG SELALU BERTANYA “BOLEH ATAU TIDAK” SEORANG DEWASA PERLU BERTANYA “PANTAS ATAU TIDAK” | |
| sumber: renunganharian.net - Juswantori Ichwan | |
Selasa, 26 April 2011
| Sukses tetapi Kasihan | Markus 10:17-30 |
| Sungguh pemuda sukses yang hebat! Ia masih belia, tetapi sudah menjadi pemimpin dan kaya raya (bandingkan Matius 19:20-22 dengan Lukas 18:18). Tak hanya kaya materi, tetapi juga secara ”rohani”. Sejak muda ia dididik mendalami Hukum Taurat dan menjalankannya (ayat 20). Ia dikagumi di lingkungan komunitas Yahudi saat itu. Ia juga dipandang berbakti kepada orangtua, sebab ia menghormati ayah-ibunya sejak belia dan tetap menghormatinya meski sudah sukses. Siapa tak bangga punya anak seperti ini? Dengan kerinduan dan semangat, ia berlutut di hadapan Yesus—rabi muda yang menyedot massa karena kharisma dan kuasa-Nya dalam berkhotbah dan mengadakan tanda ilahi. Ia mohon petunjuk Yesus; apa lagi yang perlu diperbuat agar layak masuk ke Kerajaan Allah. Dalam berelasi dengan sesama, ia patut diacungi jempol. Dalam berbuat baik, ia hebat. Namun, ada satu yang kurang, dan hanya Yesus yang tahu: bahwa kekayaan materi, martabat sosial, dan ”kekayaan rohani” yang ia punya menjadi ilah yang diandalkan sebagai ”tiket” ke surga—menggantikan Allah. Maka, ia diminta menjual semua, membagikannya ke orang miskin, dan mengikut Yesus, sebagai bukti bahwa ia diselamatkan hanya oleh belas kasihan Allah. Betulkah ia merasa perlu petunjuk Yesus? Tidak! Sebab ia kecewa dan mengabaikan tawaran sejati untuk memasuki Kerajaan Allah. Alasan utamanya karena ”banyak hartanya” (ayat 22). Pemuda ”sehebat” ini ternyata tak layak masuk Kerajaan Allah. Bagaimana dengan Anda? Beranikah Anda meletakkan seluruh kebanggaan Anda sebagai manusia, lalu datang kepada Allah sebagai orang yang miskin dan haus akan kebenaran? SEGALA KEHEBATAN MANUSIA TAK MEMBAWA KE SURGA SUNGGUH HANYA KEMURAHAN YESUS YANG MEMBAWA KITA KE SANA | |
| sumber: renunganharian.net - Susanto, S.Th. - Christ & Sylvia | |
Senin, 25 April 2011
Senin, 25 April, 2011 : Uang?
Bacaan: Mat 28:8-15
“Dengan uang Anda boleh membeli apa saja yang Anda suka.
Celakanya, kepuasaan pun bisa dibayar/didapatkan dengan uang Anda.”
Untuk memuaskan rasa benci mereka kepada Yesus maka 30 keping perak diberikan kepada Yudas Iskariot. Demikian pun untuk memutar balikan fakta alias berbohong mereka pun memberi sejumlah besar uang kepada para pengawal kubur Yesus untuk menebarkan berita yang tidak benar yang dicatat oleh Matius bahwa berita ini masih tersebar di kalangan Yahudi bahkan mereka yang membenci Yesus sampai sekarang, yakni kubur kosong terjadi bukan karena kebangkitan Yesus melainkan datangnya para murid sewaktu pengawal tertidur, lalu mengambil jenazah-Nya. Dengan uang kita bisa membeli rumah, mobil, makanan dan minuman. Dengan uang kita bisa membeli tubuh orang lain, pun sebaliknya karena uang kita bisa menjual diri...maaf, bila terlalu kasar! Pokoknya, uang menjadi sangat penting dalam hidup setiap manusia dan ini menjadi fakta yang tak terbantahkan. Pertanyaan yang hendak direnungkan pagi ini yakni; “Sebenarnya apa yang salah dengan uang?”
Uang hanyalah alat tukar yang tidak berguna bila tidak digunakan oleh saudara dan aku. Uang itu berfungsi bila kita mempunyai keinginan, bila kita memerlukan sesuatu dan bahkan ketika nafsu kita tak bisa terbendung maka uang pun memainkan peranan penting untuk memuaskannya. Ternyata kebenarannya ada di sini, tidak ada yang salah dengan uang, karena justru yang menggerakkan semuanya adalah nafsu dan keinginan kita yang tak bisa terkontrol; Selalu ingin yang lebih, selalu ingin yang banyak, bahkan selalu ingin yang cantik dan tampan pun bisa didapatkan dengan uang. Dan, semuanya bukan karena uang melainkan karena nafsu dan keinginan kita. Bukankah karena ingin mobil maka kita pun mengeluarkan uang? Bukankah karena ingin tampil lebih cantik maka salon pun kita kunjungi setiap minggu bahkan beberapa kali dalam seminggu? Bukankah karena ingin sex maka kita pun mengunjungi tempat prostistusi...menginginkan gadis bahkan istri orang lain. Tapi juga karena ingin hidup mewah diri pun dijual untuk mendapatkan uang. Masa sih? Semoga tidak! Wow...maaf karena sudah terlanjur jauh dari isi sebuah renungan.
Karena itu, ketika Anda membaca renungan pagi ini maka ambilah waktu sejenak dan renungkan serta evaluasilah dirimu sendiri apa yang saja yang Anda telah perbuat dengan uang Anda? Syukur jika uangmu Anda gunakan untuk membantu orang lain, memenuhi kebutuhan (keperluan) keluarga, dan lain-lainnya. Akan tetapi jika uangmu telah Anda gunakan untuk hal yang keliru dan salah, apalagi yang membuatmu berdosa maka saya hanya mau mengingatkan Anda sebagai saudaraku bahwa “sebenarnya tidak ada yang salah dengan uang, tetapi keinginan dan nafsu yang tak terkontrollah yang membuat kita salah menggunakan uang itu.” Dan celakanya, kita pun seperti para pemimpin Yahudi di zaman Yesus, yang menggunakan uang untuk memuaskan keiginginan dan nafsu mereka. Dengan uang mereka telah membayar orang lain untuk menebarkan cerita bohong. Akan tetapi, semoga bukan karena dan demi uang, kita menjual apa yang kita miliki; nama baik, sahabat kenalan, keluarga, pangkat dan jabatan, tetapi terlebih semoga harga kita tidak dijual hanya karena sekeping uang yang didapatkan hari ini dan esok akan lenyap. Demikianlah nasehatku kepadamu sebagai saudaraku; Carilah uang dengan cara yang halal, gunakanlah uangmu dengan bijaksana, dan janganlah menjadi hamba uang. Semuanya terserah Anda. Aku hanya membisikan kepadamu sebagai saudaraku akan kata-kata Yesus ini: “Carilah harta yang tak dapat binasa dan bukan yang akan hancur karena dimakan ngengat.” Anda tahu harta yang dimaksudkan Yesus itu.
diambil dari renungan FB Gereja Katolik
- Christ & Sylvia
Minggu 24 April 2011: Penghalang Mata Iman
| Penghalang Mata Iman (Lukas 24:13-32) | |
| Tuhan Yesus sudah bangkit. Namun, sikap para murid beragam; ada yang percaya, ada yang ragu-ragu, ada juga yang masih bingung dan tidak percaya. Lalu di jalan yang menuju ke Emaus itu, Tuhan Yesus menampakkan diri lagi. Kali ini kepada dua orang murid, yang rupanya tidak termasuk ke dalam dua belas murid yang pertama. Anehnya, kedua murid itu tidak mengenali Dia. Padahal sudah sekian lama mereka bersama-Nya. Dikatakan, ”Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka” (ayat 16). Dalam hidup kita sebagai orang percaya, bukankah kita pun kerap mengalami hal serupa—ketika kita kehilangan kepekaan akan kehadiran Tuhan Yesus? Seolah-olah ada sesuatu yang menghalangi mata iman kita. Sesuatu itu bisa berupa pikiran negatif; seperti kekhawatiran, kekecewaan, kemarahan, kebencian, atau berupa ambisi-ambisi yang tidak pada tempatnya. Akibatnya, hidup beriman kita jadi terganggu. Kita merasa hampa. Tuhan seakan-akan sangat jauh. Kita juga menjadi sulit bersyukur dan tidak bisa lagi menikmati hidup ini sebagai anugerah Allah. Lalu bagaimana? Para murid akhirnya menyadari kehadiran Tuhan Yesus, setelah mereka mengundang Dia untuk tinggal bersama mereka (ayat 29). Adakah kita merasa hidup ini begitu muram, Tuhan seolah-olah jauh dari hidup kita? Tidak ada cara lain, bukalah pintu hati kita buat Dia. Undang Dia masuk ke dalam hidup kita, dan persilakan Dia menjadi pandu atas seluruh langkah kita. Ketika itulah mata iman kita akan dicelikkan, betapa sesungguhnya Dia tidak pernah jauh dari kita. TUHAN TIDAK PERNAH JAUH DARI KITA KITALAH YANG KERAP MENJAUH DARI DIA | |
| sumber: renunganharian.net - Ayub Yahya | |
