Selasa, 05 April 2011

Selingan motivasi: 10 Motivator terbaik di Indonesia.


10 Motivator terbaik di Indonesia.

10. Christian Andrianto, merupakan murid dari Tung Desem Waringin..

09. Hermawan Kertajaya. Beliau adalah motivator spesial di bidang Marketing

08. Gede Prama. Menjadi pembicara publik...
Sangat terkenal dengan falsafah Air-nya.

07. James Gwee. Merupakan motivator dunia bisnis, dimana seminarnya ada 2 bahasa.

06. Bong Chandra. Merupakan penulis buku Unlimited Wealth. Punya acara tetap di TV One.

05. Krisnamurti. Motivator Mindset... Sangat ahli untuk training mengenai konsentrasi dan alam bawah sadar.

04. Tung Desem Waringin. Merupakan pelatih sukses no. 1 di indonesia versi majalah marketing. Terkenal dengan jargon 'Financial Revolution'.

03. Andrie Wongso. Motivator dengan gelar SDTT TBS (Sekolah Dasar Tdk Tamat, Tapi Bisa Sukses) jargonnya: "Success is my right"

02. Mario Teguh. Si Salam Super... Ada acara special Golden Ways di Metro TV.

01. Diri Sendiri.
Tidak ada yang dapat mengubah hidup anda SELAIN diri anda sendiri. Kita lahir sebagai pemenang... Motivator No. 2 sampai 10 adalah trigger/pemicu semangat untuk jangka pendek/sementara.. Yang anda butuhkan perubahan dalam diri anda.
Anda adalah Sang Juara.
Musuh terbesar kita adalah diri sendiri. Kalahkanlah baru anda bisa menapak ke tangga yang lebih tinggi.

Sebagai tambahan dari saya:
Selalu ingat pepatah. Do the best and God do the rest, mulailah usaha dengan doa, dan akhiri usaha dalam doa. Doa bukanlah BAN SEREP atau BACKUP. Doa dan restu dari Tuhan adalah no. 1 ! Tuhan tidak menyukai pemalas, jangan berharap kita bisa duduk manis dan Tuhan memberi kita begitu saja. Berusahalah dengan baik, serahkan sisanya pada Tuhan karena sekeras apapun usaha kita, semua mubazir jika Tuhan tidak berkenan.

Salam sukses dan Tuhan memberkati :)

Selasa 5 April 2011: Godaan Rasio

Godaan Rasio (Yohanes 6:1-15)


Ada satu jenis godaan yang mungkin jarang kita dengar, yaitu godaan rasio. Godaan ini berupa suara lembut yang mendorong kita untuk bertindak berdasarkan rasio. Padahal ada kalanya Tuhan menghendaki kita bertindak dengan iman, yang bisa saja bertolak belakang dengan pikiran kita. Saat kita dihadapkan pada situasi seperti ini, sebenarnya kita punya kesempatan untuk melihat kuasa dan mukjizat Allah dinyatakan di hidup kita, lewat iman.

Saat murid-murid diminta mengumpulkan makanan yang ada untuk memberi makan lima ribu orang, mereka hanya mendapat lima roti dan dua ikan. Dalam kondisi demikian, sebenarnya mereka bisa mudah tergoda untuk tidak taat kepada Tuhan dengan tidak menyerahkan makanan yang sedikit itu. Toh, mustahil sedikit makanan itu bisa mencukupi makan lima ribu orang. Gampang sekali bagi Andreas untuk mengembalikan lima roti dan dua ikan itu kepada si anak kecil dan berkata, “Nih, ambil kembali saja. Sebab tidak akan cukup untuk memberi makan orang sebanyak ini.” Namun bersyukur, mereka tak tergoda untuk memakai rasio.

Tuhan kita yang mahakuasa, bisa bekerja dalam berbagai ketidakmungkinan. Walau ini tentu melatih iman dan percaya kita kepada-Nya. Inilah alasan mengapa terkadang Dia mengizinkan kita mengalami masalah-masalah yang sangat sulit diselesaikan oleh rasio manusia. Mungkin kita sedang mengalami hal itu. Rasio kita sudah membisikkan kata tidak mungkin, tidak bisa, tidak sanggup, dan sebagainya. Rasio dan iman percaya harus diterapkan dalam ketundukan pada Tuhan, sehingga tidak membatasi kuasa serta mukjizat Tuhan bekerja di dalam dan melalui hidup kita.

AKAL DAN RASIO KITA BEGITU KECIL

DIBANDINGKAN KEDAHSYATAN TUHAN YANG BESAR


sumber: renunganharian.net - Petrus Kwik

- Christ & Sylvia

Senin, 04 April 2011

Senin 4 April 2011: Doa yang tak terkabul

Senin, 4 April, 2011

Yoh 4:43-54

“Banyak orang berdoa meminta kepada Tuhan, akan tetapi hanya mereka

yang percaya dengan sungguhlah yang mendapatkannya.

Cerita Injil hari ini bisa dipersingkat seperti ini; Si ayah yang anaknya sakit mendengar bahwa Yesus datang ke daerahnya. Ia bertemu dengan Yesus dan memohon kesembuhan bagi anaknya. Yesus berkata kepadanya; “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat maka kamu tidak percaya. “ Lanjutnya; “Pergilah, anakmu hidup.” Orang itu PERCAYA akan perkataan Yesus, lalu pergi. Dan ketika Ia mendekati rumahnya, hambanya mendatanginya dengan kabar bahwa anaknya telah sembuh. Teringatlah ia bahwa kesembuhan anaknya terjadi bersamaan waktu ketika Yesus mengatakan kepadanya; “Pergilah, anakmu hidup.”

Banyak orang selalu bertanya; Romo, aku telah berdoa banyak kali, bahkan untuk satu maksud saja aku sudah memintanya dengan berbagai cara (intensi misa, berbagai novena dan doa-doa lainnya lagi), tapi kenapa Tuhan tidak mengabulkan permohonanku? Aku selalu menjawab; Ya, karena kamu fokus pada apa yang kamu minta dan bukannya percaya pada Allah yang akan mengabulkan doamu. Bagiku, terkabulnya doa bukan tergantung pada berapa kali Anda meminta sesuatu kepada Tuhan tapi sejauh manakah Anda percaya bahwa Tuhan akan memberi apa yang kamu minta, bukan sesuai dengan kehendakmu tapi hanya kehendak-Nyalah yang terjadi. Aku senang untuk mengatakan ini kepada para peniten yang selalu mengharapkan bantuan nyata dari apa yang mereka minta dalam doa mereka; “Manusia membutuhkan tanda dan mujizat untuk percaya tapi Allah membutuhkan iman dan kepercayaanmu untuk melakukan mujizat bagimu.” Dengan kata lain, iman mendatangkan mujizat dan sebaliknya mujizat menguatkan iman seseorang. Hanya mengingatkanmu bahwa pegawai istana itu percaya akan kata-kata Yesus dan ia mendapatkan apa yang dia mintakan. Banyak di antara kita yang meminta tapi hanya sedikit yang percaya akan mendapatkannya. Dan, sungguh, mereka inilah yang mendapatkan apa yang mereka mintakan seperti pegawai istana dalam cerita Injil hari ini. Bagaimana dengan kita yang lain? Kita berdoa dan meminta tapi meragukan kebaikan hati Allah untuk mengabulkan apa yang kita mintakan, atau setidak-tidaknya kita terlalu fokus pada kemendesakan akan kebutuhan kita dripada percaya dan pasrah kepada kehendak kepada Allah.

Injil hari ini memberika beberap point penting untuk direnungkan sekaligus menjadi kekuatan bagimu;

Pertama, Doa dan permintaan orang lain pun sangat bermanafaat dalam hidup seseorang. Ayah itu percaya dan meminta kepada Yesus dan anaknya mendapatkan kesembuhan.

Kedua, Tuhan tahu apa yang Anda perlukan. Banyak orang tidak mendapatkan apa yang mereka minta karena keraguan yang hidup di dalam hati mereka.

Ketiga, Jika seorang saja percaya di dalam rumah/sebuah komunitas maka Allah akan menunjukkan sesuatu yang mengagumkan kepadamu, yakni pertobatan untuk semua anggota rumah seperti si pegawai itu yang percaya, maka seluruh anggota keluarga pun menjadi percaya. Anda melakukan sesuatu dari kemampuanmu maka Allah akan melakukan segalanya untuk melengkapi apa yang masih kurang dalam perjuanganmu.

Karena itu, saya selalu percaya bahwa terkabulnya sebuah doa tergantung pada seberapa besar imanmu di balik doa permohonanmu. Tuhan tentunya mengabulkan sesuatu sesuai dengan Kehendak dan waktu-Nya, tapi imanmu sungguh menjadi kunci yang membuka pintu rahmat itu. Bagaimana Tuhan membuka pintu rahmat itu jika Anda tidak memberikan kuncinya? Sungguh, Tuhan bisa bersabda saja maka pintu itu akan terbuka, tapi yang indah dari pihak Tuhan adalah mujizat-Nya selalu terjadi karena partisipasimu. Ini bukan menyangkut Tuhan tapi Tuhan memerlukan partisipasimu dalam sebuah mujizat agar Anda pun merasa berarti di hadapan-Nya dan sesamamu.

sumber: notes FB Gereja Katolik

- Christ & Sylvia

Minggu, 03 April 2011

Minggu 3 April 2011: Puasa

Puasa bagi Murid Yesus (Markus 2:18-22)


Ada beberapa denominasi gereja tertentu memiliki tradisi berpuasa dan sangat mementingkan ajaran tentang puasa dan ada yang tidak. Bagi bangsa Yahudi, puasa merupakan tradisi keagamaan yang sangat penting, golongan Farisi bahkan memiliki kebiasaan berpuasa dua kali seminggu (Lukas 18:12). Di Perjanjian Lama, ada seruan berpuasa sebagai ungkapan kesedihan (1 Samuel 31:13, 2 Samuel 1:12), atau ungkapan pertobatan (1 Samuel 7:6). Tetapi bagi golongan Farisi, puasa juga merupakan aktivitas rohani yang menampakkan kesalehan—supaya berbeda dengan orang lain (Lukas 18:11,12). Mengapa saat murid-murid Yohanes Pembaptis dan orang Farisi berpuasa, murid Yesus tidak melakukannya?

Bagi Yesus, murid-murid-Nya bagai para sahabat yang sedang menyongsong mempelai laki-laki. Dan, mereka dipenuhi sukacita surga sebab Yesus sang mempelai itu telah datang. Datang untuk membuka relasi baru, yaitu hidup diperdamaikan dengan Allah. Datang untuk mengasihi orang berdosa dan meniadakan dosa yang dibenci-Nya melalui pengorbanan Yesus di kayu salib. Maka, murid-murid itu tak perlu lagi berdukacita atas dosa dan kesalahan mereka.

Namun jangan salah, puasa itu penting. Sebab Yesus tak pernah meniadakan puasa (ayat 20). Yesus justru meluruskan tujuan puasa. Bukan untuk menonjolkan kebanggaan manusia akan kesalehannya. Puasa yang sesungguhnya dilakukan demi membangun relasi yang intim dengan Allah, mengasah kepekaan diri akan kehadiran Allah, menjadi peka akan dosa, dan selalu terbuka untuk mengikuti kehendak-Nya dan bukan pemuasan kehendak diri sendiri. Selamat berpuasa.

BERPUASA ADALAH MENANGGALKAN KEINGINAN DIRI

DAN TUNDUK PADA KEHENDAK-NYA DENGAN SEPENUH HATI


sumber: renunganharian - Susanto, S.Th.

- Christ & Sylvia

Sabtu, 02 April 2011

Sabtu 2 April 2011 - Homili Mgr FX. Hadisumarta O.Carm

Homili - Mgr FX. Hadisumarta O.Carm - MINGGU PRAPASKAH IV/A/2011, Sam 16:1b.6-7.10-13a Ef 5:8-14 Yoh 9:1-41



Isi pokok pesan kabar gembira Injil Yohanes hari ini ialah, bahwa kita diajak melihat wajah Yesus. Dengan melihat Yesus mata kita lepas dari kekaburan dan kegelapan pandangan kita, dan melihat dengan terang betapa indah wajah Yesus. Dari wajah itu tampak betapa besar kekuatan-Nya yang mampu menyembuhkan segala penyakit kita. Wajah-Nya itu membuat kita dengan sadar sepenuhnya dan sebulat hati mengakui, bahwa Yesus adalah sungguh Tuhan dan Penyelamat kita, yang datang untuk menyelamatkan kita di dunia ini.

HOMILI

Dari cerita Injil yang panjang namun bagus ini kita mencoba mengambil beberapa butir maknanya. Cerita Injil Yohanes sungguh indah, tetapi isinya yang ingin disampaikan kepada lebih indah lagi! Ada beberapa hal yang patut kita perhatikan dalam hidup kita, baik secara pribadi maupun dalam hubungan kita dengan orang lain dan masyarakat. Injil hari ini menunjukkan adanya di dalam diri kita dan juga di antara kita semua sebagai komunitas atau masyarakat unsur-unsur ini: pertentangan (kontroversi), penderitaan (penyakit), dan kebutaan, lahir dan batin.

Pertama: pertentangan. Ada kenyataan bahwa seorang yang buta sejak lahirnya dapat disembuhkan. Tetapi justru penyembuhan ini menimbulkan masalah. Ketika ditanya, orang yang semula buta itu menjawab: Yesus telah membuat aku dapat melihat. Orang buta ini mengalami pergantian dari kegelapan kepada terang. Ia melihat Yesus sebagai sesama manusia, kemudian sebagai nabi dan akhirnya sebagai Putera Allah. Sebaliknya, kaum Farisi ketika melihat kenyataan penyembuhan itu, justru mulai ragu-ragu dan akhirnya tak mau mengakui bahwa Yesus datang dari Allah. – Orang-orang yang membanggakan diri sebagai orang beragama, justru membuat dirinya buta! Bukankah sekarang pun di negara-negara, yang memperkenalkan diri sebagai bangsa yang sungguh beragama ketat, terjadi aneka ragam kebutaan terhadap kemanusiaan warganya? – Inilah pertentangan antara kesederhanaan murni dan pengetahuan palsu; antara keyakinan keagamaan/rohani sejati dan fanatisme sebagai iman yang palsu. Si buta itu minim pengetahuannya ttg keagamaan, mungkin tidak rajin ke Bait Allah. Ia hanya tahu dan sadar, bahwa semula ia berada dalam kegelapan, tetapi sekarang dapat melihat keadaan dunia di mana ia hidup. Ia mengakui: “Satu hal yang kuketahui ialah bahwa aku semula buta, tetapi sekarang aku bisa melihat”. Orang ini bukan memulai kesembuhannya dengan suatu pengetahuan khusus agama, melainkan dengan pengakuan (kepercayaan): Yesus adalah seseorang yang memberinya hidup baru, menyelamatkan dan menyingkirkan kebutaan matanya, memberikan harapan dan keberanian! Maka ia berkata: “Aku percaya, Tuhan!”.

Kedua: penderitaan. Suatu penderitaan atau penyakit fisik, yang lama diderita dapat menimbulkan penderitaan psikis atau rohani yang lebih berat. “Mengapa aku harus menderita?”. “Mengapa Tuhan membiarkan adanya penderitaan?”. “Siapakah yang salah, bahwa aku ini buta, tulis, dungu, dan bukan seperti lainnya?”. “Apakah penderitaan ada maknanya?”. “Apa nilainya?”. “Siapa yang menyebabkannya?”. Maka kebutaan sering dipakai sebagai lambing ketidakmampuan kita untuk menangkap dan memahami penderitaan kita apapun bentuknya. Penderitaan itu dapat berkurang atau sebaliknya malahan bertambah dirasakan, apabila dikaitkan dengan keyakinan keagamaan/batin masing-masing.

Ketiga: kebutaan. Dewasa ini, telah sekian lamanya ada agama-agama yang mengajarkan hal-hal tentang keselamatan jiwa raga manusia. Diajarkan tentang Allah dan manusia, tentang hubungan antara manusia dan Allah serta sesama, tetapi ternyata pengertian dan penghayatan ajaran agama itu oleh pemeluk-pemeluknya berbeda-beda. Ada sikap orang pandai dan orang bodoh, orang besar dan orang kecil, orang sederhana dan orang angkuh atau arogan, orang saleh-jujur dan orang fanatik-palsu, - semua ini dapat diumpamakan sebagai kegelapan dan terang, atau sebagai kebutaan dan penglihatan gamblang. Perbedaan ini kenyataannya memperlihatkan sikap orang beriman atau orang beragama yang berlainan. Makin modern zaman kita, makin berbeda pula pandangan serta penghayatan hidup beragama!



Menghadapi kenyataan ini kita, sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, dapat belajar dari Injil Yohanes hari ini. Kita diajak berjumpa dengan Yesus dan melihat wajah-Nya. Syarat mutlak yang dibutuhkan untuk dapat melihat wajah-Nya ialah, bahwa kita semua tanpa perbedaan harus mengakui adanya kebutaan dalam diri kita masing-masing. Hanya dengan syarat inilah kita dapat berjumpa dengan Yesus dan melihat wajah-Nya penuh kasih, yang datang untuk menyelamatkan kita. Ia akan membuka mata kita dan kita akan sungguh percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Penyelamat kita. Dalam wajah-Nya kita dapat melihat kesungguhan dan kesediaan-Nya untuk berbuat segalanya yang dituntut untuk penyelamat kita: rendah hati, menolong, mengampuni, menderita, mati disalib. Betapa indah wajah-Nya!

sumber: FB Gereja Katolik

- Christ & Sylvia

Jumat, 01 April 2011

Jumat 1 April 2011: Seandainya

Seandainya ( 1 Korintus 7:17-24)


Seandainya saya menikah—tentu saya tidak kesepian lagi. Seandainya gaji saya lebih besar—tentu kehidupan keluarga saya lebih harmonis. Seandainya saya tidak terjebak di kota kecil ini—tentu bisnis saya berjalan lebih lancar. Seandainya istri saya penuh pengertian—tentu saya bisa melayani Tuhan secara lebih leluasa. Seandainya. Seandainya. Seandainya.

Pernahkah pikiran semacam itu mengerumuni benak Anda? Lumayan sering, ya? Kita menginginkan kehidupan yang lebih baik, lebih bahagia. Dan, kita mengira, jalan untuk mencapainya ialah berubahnya keadaan atau orang di sekitar kita.

Jemaat di Korintus juga berpikiran demikian. Untuk menjadi orang kristiani yang lebih baik, orang yang tak bersunat perlu bersunat; seorang hamba perlu memerdekakan diri; yang melajang perlu menikah. Bagaimana tanggapan Paulus? Menurutnya, bagi orang yang telah dipanggil Allah, tidaklah penting keadaan lahiriahnya. Kalau bisa diubah menjadi lebih baik, mengapa tidak? Namun kalau tetap sama, tak perlu dipaksakan untuk berubah. Kalaupun malah menjadi lebih buruk—karena kita dianiaya, misalnya—itu pun tidak masalah.

Faktor yang paling menentukan ialah kehidupan baru yang dianugerahkan kepada kita: bahwa sekarang kita ”tinggal di hadapan Allah”, hidup bersama dengan Allah. Kebahagiaan hidup kita tidak lagi ditentukan oleh faktor lahiriah, melainkan oleh faktor batiniah: hubungan kita dengan Allah. Kita menjadi milik-Nya, dipanggil untuk mengasihi dan menaati-Nya. Dengan kesadaran ini kita dapat hidup tenang dan tenteram, bagaimanapun kondisi lahiriah kita, terbebas dari lingkaran setan ”seandainya”.

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN DITEMUKAN SAAT KITA NYAMAN

MELAINKAN SAAT KITA MELAKUKAN MAUNYA TUHAN


sumber: renunganharian.net - Arie Saptaji

- Christ & Sylvia

Kamis, 31 Maret 2011

kamis 31 Maret 2011: membeli kebenaran

Membeli Kebenaran (Matius 13:43-46)


Dalam salah satu amsalnya, Salomo mendorong kita untuk “membeli kebenaran dan tidak menjualnya” (Amsal 23:23). Apakah artinya ini? Tentu kita tidak dapat membeli kebenaran Allah dengan uang. Kita hanya dapat menerima kebenaran itu sebagai anugerah yang cuma-cuma dari Allah. Ketika kita menyambut kebenaran Allah, maka kita menjauhi kefasikan. Dalam hal ini, tentu kita perlu gigih dan memberi pengorbanan. Dalam amsal lain, Salomo menggambarkan pencarian hikmat seperti pencarian harta karun—ada usaha yang sungguh-sungguh (2:4). Dalam perumpamaan yang Yesus ceritakan, orang sampai rela menjual seluruh miliknya untuk mendapatkan mutiara yang sangat berharga (Matius 13:46).

Kita ditantang untuk ”membeli kebenaran”, semahal apa pun harga yang harus kita bayar. Ketika kita mengembangkan disiplin pribadi untuk menyimak firman Tuhan dengan berwaktu teduh, kita sedang ”membeli kebenaran”. Ketika kita menolak untuk mengambil jalan pintas kecurangan dan memilih untuk menempuh jalur yang—walaupun berat, sesuai dengan prinsip firman Tuhan, kita juga sedang ”membeli kebenaran”.

Menjual kebenaran, sebaliknya, berarti meremehkan bahkan mengkhianati kebenaran. Ketika kita membaca atau mendengarkan firman Tuhan, tetapi kemudian mengabaikan dan tidak menerapkannya, kita sedang ”menjual kebenaran”. Ketika kita mengompromikan integritas karena tergoda iming-iming kenaikan jabatan, kita juga sedang ”menjual kebenaran”.

Hari ini, baiklah kita meminta anugerah Allah, agar dimampukan untuk membeli kebenaran, dan tidak menjualnya.

PENGORBANAN ANDA UNTUK MENDAPATKAN KEBENARAN

MENUNJUKKAN SEBERAPA BESAR NILAI KEBENARAN BAGI ANDA


sumber: Arie Saptaji

- Christ & Sylvia