Sekedar berbagi pengalaman hidup seputar iman terhadap Yesus Kristus menurut ajaran agama Katolik
Kamis, 31 Mei 2012
AIR SUCI
~AIR SUCI~
Sahabat GK, pasti banyak di antara kita yang sudah tahu ujud benda yang satu ini. Air suci selalu disediakan di pintu masuk Gereja, dan kita gunakan untuk menandai diri kita dengan tanda salib pada waktu masuk ke dalam gereja. Apa saja sih yang perlu kita ketahui tentang air suci?
1. Air suci adalah sakramentali yang “paling dasar” dalam Gereja Katolik. Semua manusia mengenal air. Kita ingat bagaimana dalam awal Kitab Kejadian bahwa Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Pun banyak Bapa Gereja berpendapat bahwa dengan ketika Kristus dibaptis di sungai Yordan, Ia secara tidak langsung mengesahkan penggunaan air sebagai sarana penyucian. Gereja kemudian melanjutkan pemahaman ini, dengan mengesahkan air suci sebagai salah satu Sakramentali. Apa itu sakramentali? Segala sesuatu yang mirip, menunjang, mengarahkan umat untuk menerima Sakramen. Sakramentali dapat membantu mengalirkan rahmat (baca:bantuan ilahi yang memungkinkan umat hidup selaras dengan Kristus), namun semuanya berpulang pada kondisi batin dan iman orang yang menggunakan sakramentali tersebut.
2. Dengan membuat tanda salib menggunakan air suci waktu masuk ke dalam gereja, kita mengenang pembaptisan, maka sebaiknya tidak membuat tanda salib dengan asal-asalan. Kita harus mengucapkan nama Tritunggal dengan jelas dan dengan kesadaran penuh. Kembali kepada arti dari Sakramentali, yaitu untuk menyiapkan umat menyambut Sakramen, maka sebenarnya membuat tanda salib dengan air suci saat keluar gereja, tidak diperlukan lagi. Tentunya tidak masalah jika dilakukan, namun fungsi Sakramentali air suci sudah terpenuhi ketika masuk ke dalam gereja.
3. Praktik menyimpan air suci dalam rumah umat, amat sangat dihargai. Anda bisa membeli wadah kecil air suci untuk diletakkan di rumah, sehingga air suci bisa Anda gunakan untuk memulai doa pagi Anda. Jika Anda menyimpan air suci terlalu lama dalam botol, kemungkinan air suci menjadi berlumut, maka Anda bisa menyiramkannya ke tanah agar berguna bagi makhluk hidup lain (tanaman). Banyak paroki yang meletakkan wadah penyimpanan air suci (biasanya berupa gentong plastik besar) di sakristi, sehingga umat dapat langsung memintanya ke koster. Umat tidak perlu membawa botol berisi air untuk diberkati secara khusus oleh imam. Lagipula, air suci yang digunakan di gereja, telah dipersiapkan secara khusus, yaitu dicampur dengan garam. Mengapa garam? Garam adalah benda yang sangat penting dalam Kitab Suci. Kita ingat bahwa dalam Perjanjian Lama, istri Lot berubah menjadi tiang garam karena ketidaktaatan. Dalam injil, Yesus pun berkata agar kita menjadi garam dunia yang tidak tawar. Kita dapat melihat pemberkatan atas air secara meriah pada Liturgi Baptis ketika Vigili Paskah. Pemberkatan ini dilakukan dengan mencelupkan lilin Paskah ke dalam bejana.
4. Air suci adalah sakramentali yang HARUS SELALU ADA dalam gereja. Praktik mengosongkan wadah air suci pada masa Prapaskah, sama sekali tidak dibenarkan. Wadah air suci hanya boleh kosong ketika Jumat Agung. Hal ini dikarenakan selain sebagai persiapan jelang pemberkatan air secara meriah pada vigili Paskah, kita tahu bawa pada hari Jumat Agung kita tidak menandai diri kita dengan tanda salib.
Kutipan Santa/o:
"Tidak ada suatu pun yang membuat roh-roh jahat lari tunggang langgang tanpa memalingkan muka, kecuali air suci."
--Sta.Teresa dari Avila---
Semoga tercerahkan.
*diambil dari page FB Gereja Katolik*
Jumat, 04 Mei 2012
Jumat pertama. Apa itu?
Sejarah Devosi kepada Hati Kudus Yesus:
Devosi berfokus kepada Hati Yesus yang maha kudus yang melambangkan
kasih Kristus yang menebus dosa manusia. Walaupun tradisi mengatakan
bahwa praktek devosi ini telah dimulai sekitar tahun 1000, atau pada
jaman St. Anselmus dan St. Bernard (1050-1150) dan juga telah dianjurkan
oleh banyak orang kudus di abad pertengahan, seperti St. Albertus
Agung, St. Catherine dari Siena, St. Fransiskus dari Sales, dan juga
para Benediktin, Dominikan dan Carthusian; namun Santa yang paling
sering diasosiasikan dengan devosi Hati Kudus Yesus adalah St. Margaret
Mary Alacoque (1647-1690).
St. Margaret memperoleh wahyu
pribadi dari Tuhan Yesus yang menghendaki perayaan liturgis Hati Kudus
Yesus dan praktek mempersembahkan silih (reparation) terhadap dosa- dosa
yang dilakukan terhadap Sakramen MahaKudus, pada setiap hari Jumat
pertama dalam setiap bulan.
Pada tahun 1856 Paus Pius IX
menetapkan Pesta (perayaan liturgis) Hati Kudus Yesus. Pada tahun 1928
Paus Pius XI mengeluarkan surat ensiklik Miserentissimus Redemptor
tentang silih kepada Hati Kudus Yesus; sedangkan tahun 1956 Paus Pius
XII mengeluarkan surat ensiklik tentang Haurietis aquas, tentang devosi
kepada Hati Kudus Yesus.
Devosi umumnya dilakukan menjelang
perayaan Pesta Hati Kudus Yesus yang jatuh pada hari Minggu kedua
setelah hari raya Pentakosta. Kemudian, devosi kepada Hati Kudus Yesus
ini diadakan setiap bulan, yaitu pada hari Jumat pertama.
2. Pengantar kepada devosi Hati Kudus Yesus
Kasih kepada Yesus Kristuslah yang seharusnya menjadi dasar devosi dari
umat Katolik. Kurangnya devosi kepada Hati Kudus Yesus menjadi sebab
bagi jatuhnya seseorang kepada dosa yang serius, sebab ia tidak
memberikan perhatian yang cukup dan tidak cukup terdorong untuk
mempunyai kasih kepada Kristus, padahal kasih inilah yang mempersatukan
jiwa manusia dengan Tuhan…. Kita tidak akan sungguh dibentuk menjadi
gambaran Tuhan, atau bahkan menginginkan untuk dibentuk menjadi serupa
dengan-Nya, jika kita tidak merenungkan kasih yang telah ditunjukkan
oleh Kristus.
Untuk maksud inilah maka Tuhan Yesus menyatakan
kehendak-Nya kepada St. Margaret Mary Alacoque, agar devosi dan perayaan
Hati Kudus Yesus diadakan dan disebarluaskan di Gereja. Melalui devosi
ini yaitu melalui adorasi dan doa, umat beriman membuat silih bagi
segala luka yang diterima oleh Hati Kudus Yesus karena umat manusia yang
tidak berterimakasih dan menghina Sakramen Maha Kudus.
“Lihatlah Hati itu”, seperti yang dikatakan oleh Yesus kepada St.
Margaret, “yang telah mengasihi umat manusia dan memberikan segala-
galanya kepada mereka, bahkan menyerahkan dirinya sediri sebagai jaminan
kasih-Nya, tetapi menerima dari sebagian besar umat manusia, bukan
balasan kasih, melainkan rasa tidak berterimakasih, dan penghinaan
kepada Sakramen Kasih.”
Maka devosi Hati Kudus tidak lain
adalah ekspresi kasih kepada Penyelamat kita. Obyek dari devosi ini
adalah Hati Yesus yang menyala oleh karena kasih kepada semua umat
manusia.
3. Jumat pertama
Adalah
menjadi kerinduan Tuhan Yesus, seperti yang dinyatakan kepada St.
Margaret, bahwa setiap hari Jumat pertama setiap bulan dikhususkan untuk
devosi dan adorasi kepada Hati Kudus Yesus. Untuk mempersiapkannya,
adalah baik jika pada malam sebelumnya kita membaca tentang devosi ini,
atau Jalan Salib/ Kisah sengsara Tuhan Yesus dan untuk mengunjungi
Sakramen Maha Kudus. Pada hari Jumat tersebut, begitu bangun tidur, kita
mempersembahkan diri kita dan meng-konsekrasikan, seluruh pikiran,
perkataan dan perbuatan kita kepada Tuhan Yesus, agar Hati Kudus-Nya
dapat dihormati dan dimuliakan. Kita mengunjungi gereja, berlutut di
hadapan-Nya yang hadir di tabernakel, agar kita dapat membangkitkan di
dalam jiwa kita rasa duka cita (deep sorrow) atas begitu banyaknya
penghinaan/ perlawanan yang ditujukan kepada Hati Kudus-Nya di dalam
Sakramen Maha Kudus, [dan kemudian mengikuti Misa Kudus]. Tidaklah sulit
untuk melakukan hal ini jika kita memiliki sedikit saja kasih kepada
Kristus. Jika kita menjadi suam- suam kuku, mari mengingat kembali
begitu banyaknya alasan yang kita miliki untuk memberikan hati kita
kepada Kristus. Setelah itu, kita harus mengakui segala kesalahan kita
atas kekurangan hormat kita di dalam hadirat Allah dalam Sakramen Maha
Kudus, atau melalui kelalaian kita untuk mengunjungi dan menerima Dia di
dalam Komuni kudus.
Komuni pada hari itu dipersembahkan untuk
membuat silih terhadap segala bentuk penghinaan yang diterima Kristus
dalam Sakramen Maha Kudus, dan semangat kasih yang sama harus
menghidupkan segala tindakan kita sepanjang hari.
Meskipun
devosi ini diadakan sekali sebulan (pada hari Jumat Pertama) namun
latihan- latihan rohani ini tidak terbatas hanya sebulan sekali pada
hari itu. Yesus layak dihormati setiap saat. Dengan demikian mereka yang
terhalang untuk merayakan devosi Hati Kudus Yesus pada hari Jumat
pertama, dapat melakukannya pada hari- hari lainnya pada bulan itu.
Minggu, 08 April 2012
We are back! Happy Easter!
(Kristus telah bangkit, sungguh Dia bangkit)

Pertama-tama kami mengucapkan Selamat hari raya Paskah! Sungguh kita bersuka cita karena Yesus Kristus, Tuhan dan juruselamat yang sudah memberikan nyawa-Nya bagi kita, sudah mengalahkan maut dan bangkit dengan mulia.
Posting ini merupakan sebuah awal baru dari blog ini, jika sebelumnya kami hanya sekedar membagi renungan harian, sekarang ini kami akan lebih menitikberatkan pada hal-hal diluar itu (seperti yang diketahui, kita dapat mengakses renungan setiap hari dari aneka website lain, misalnya renungan harian).
Pada post kali ini, kami akan berbagi soal masa pra-Paskah dan pekan suci, termasuk di dalamnya adalah Tri Hari Suci (Kamis Putih, Jumat Agung, dan Minggu Paskah)
Tri Hari Suci merupakan puncak dari perayaan Paskah. Sebelumnya, kita memasuki masa pra-Paskah yang dimulai dari hari Rabu Abu. Pada masa pra-Paskah, kita diajak untuk bertobat, berpantang dan berpuasa sebagai tanda kita sungguh menyesal atas segala dosa-dosa kita, dan memohon pengampunan dari Allah sendiri untuk kemudian memperbaiki diri. Masa pra-Paskah ini berlangsung selama 40 hari sebagai persiapan kita menyambut pekan suci
Tentu kita tahu di Alkitab, orang Yahudi pada jaman itu juga sudah mengenal perayaan Paskah. Namun, pada masa itu, perayaan Paskah merupakan peringatan pembebasan mereka dari Mesir, di mana Allah sendiri menuntun mereka keluar dari perbudakan menuju tanah terjanji. Oleh Tuhan Yesus, peristiwa Paskah diperbaharui dengan peringatan akan sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya sendiri.
Rabu Abu
Rabu Abu mengawali masa pra-Paskah, dimana kita diingatkan, bahwa manusia berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu. Hendaklah kita tidak bermegah diri di atas segala yang kita raih di dunia ini, karena semuanya merupakan karunia dari Tuhan sendiri. Pada hari ini, umat Katolik diwajibkan berpantang dan berpuasa. Puasa wajib pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung, sementara pantang wajib pada hari Rabu Abu dan setiap jumat hingga Jumat Agung.
Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh
Berpantang maksudnya kita menahan diri terhadap sesuatu yang biasa kita jalani dengan senang hati/bersifat hiburan (umumnya, kita berpantang tidak makan daging selama sehari penuh, rokok, hiburan, dll). Sementara pengertian puasa pada tradisi Katolik sekarang ini adalah "makan kenyang satu kali dalam satu hari", walaupun tentu juga diperkenankan jika ingin berpuasa penuh seperti saudara kita yang Muslim. Tapi yang terpenting, selain berpantang dan berpuasa, hendaknya kita juga beramal kasih pada sesama dan jangan pula kita sengaja memperlihatkan raut muka muram supaya diketahui orang kalau kita sedang berpuasa.
Dalam kotbah di bukit, Yesus bersabda tentang puasa:
“Apabila kamu berpuasa,
Janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
Tetapi apabila engkau berpuasa,
minyakilah kepalamu
Dan cucilah mukamu
Supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa
Melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Kita ke gereja dan menerima urapan abu dan komuni kudus.
Rabu Abu jatuh pada tanggal-tanggal berikut di tahun-tahun mendatang:
* 2013 - 13 Februari
* 2014 - 5 Maret
* 2015 - 18 Februari
* 2016 - 10 Februari
* 2017 - 1 Maret
* 2018 - 14 Februari
* 2019 - 6 Maret
Minggu Palma
Sebagai awal dari pekan suci. Pada hari ini kita memperingati Tuhan Yesus disambut di kota Yerusalem sebagai Raja. Yesus menaiki keledai muda dan orang-orang memberikan daun palma di jalan yang dilewati Yesus. Biasanya kita merayakan dengan mengikuti misa kudus sambil membawa daun palma yang kemudian diperciki dan diberkati oleh Imam.
Kamis Putih
Kamis Putih merupakan perayaan perjamuan terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya, di mana pada perjamuan ini, Yesus memecah-mecahkan roti dan memberikan anggur namun tidak seperti tradisi Paskah orang Yahudi. Di sini Yesus memberikan Tubuh dan Darah-Nya sendiri untuk murid-murid-Nya demi penebusan dosa. Tuhan Yesus pun secara jelas meminta kita untuk mengenang peristiwa ini ("Kenangkanlah Aku dengan merayakan peristiwa ini).
Ritual Perjamuan Malam ini diperingati diperingati sebagai perayaan Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Pada misa Kamis Putih, Imam juga mencuci kaki umat sebagai peringatan Yesus yang mencuci kaki para muridnya dalam perjamuan terakhir, pelayanan Yesus di dunia sebelum kematian-Nya. Di sini Yesus memberi teladan pada kita pentingnya saling melayani dan mengasihi sesama.
Pada misa terakhir Kamis Putih, biasanya umat diajak untuk tuguran. Di mana ritual tuguran adalah berjaga-jaga (sama seperti ajakan Tuhan Yesus pada murid-Nya untuk berjaga-jaga di taman Getsemani sebelum penangkapan-Nya). Tuguran biasa berlangsung 1 jam hingga pukul 12.00 tengah malam. Dan ada beberapa yang berjaga hingga pagi secara bergantian.
Perayaan Kamis Putih pada tahun-tahun mendatang:
2013: 28 Maret
2014: 17 April
2015: 2 April
2016: 24 Maret
2017: 13 April
2018: 29 Maret
2019: 21 Maret
2020: 9 April
Jumat Agung
Jumat Agung merupakan hari peringatan sengasara dan wafat Tuhan Yesus. Kita mengetahui bahwa Tuhan Yesus digiring ke pengadilan, dijatuhi hukuman mati (disalibkan), dan Tuhan Yesus disuruh membawa salib-Nya ke Golgota diiringi cambukan, hinaan, diludahi, diolok-olok, pakaian dan jubah-Nya diambil orang-orang. Pada hari ini kita diajak untuk mengingat, merenungkan apa yang Tuhan Yesus lakukan demi kita. Dia rela menderita hingga menerima ratusan cambukan, siksaan, bahkan dipaku di kayu salib. Dia tetap diam ketika seluruh orang menghujat dan menghina Dia. Padahal dosa kitalah yang ditanggung-Nya
Yesus Kristus adalah Tuhan, Putra Bapa, dan hanya masalah kecil bagi-Nya jika Dia hendak melenyapkan seluruh orang yang menyalibkan-Nya. Yesus Kristus yang mengambil rupa manusia, juga memiliki sisi manusia yang bisa merasakan takut (peluh-Nya menjadi darah saat di taman Getsemani). Namun Kristus sungguh menjalankan semua-Nya demi kita dan menuruti kehendak Bapa di surga.
Hendaknya kita sungguh menyadari bahwa Allah sendiri rindu untuk menyelamatkan umat manusia. Allah itu maha adil, tetapi juga maha kasih dan maha rahim. Itulah yang mesti kita ingat sebagai umat Kristiani. Tidak akan ada penebusan dosa oleh Tuhan Yesus apabila Allah itu kejam.
Minggu Paskah
Mungkin sebagian dari kita menganggap, hari terpenting adalah hari Natal. Justru sebenarnya hari Paskah inilah yang terpenting bagi umat Kristiani. Apabila Kristus tidak bangkit, sia-sialah iman kita (1 Kor 15:14). Paskah identik dengan Yesus, yang oleh Paulus disebut sebagai "anak domba Paskah"; jemaat Kristiani hingga saat ini percaya bahwa Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan, dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus.
Selasa, 10 Mei 2011
Selasa 10 Mei 2011: Yakin walau sendiri
| Yakin Walau Sendiri (1 Raja-raja 18:21-39) | |
| Pertarungan antara satu orang versus empat ratus lima puluh orang hendak digelar—untuk memenangkan hati sebuah bangsa. Sangat tidak imbang. Di atas kertas, yang satu orang tentu tak berdaya. Apalagi, bangsa yang diperebutkan sudah cenderung berpihak pada yang mayoritas. Begitulah ketika Elia menantang 450 nabi Baal di gunung Karmel, untuk menunjukkan di hadapan bangsa Israel, siapa Tuhan. Apakah Baal, atau Allah Israel. Mereka sepakat mempersiapkan korban bakaran tanpa api, lalu masing-masing akan meminta api kepada kuasa yang mereka percayai sebagai Tuhan (ayat 23, 24). Sejak pagi, para nabi Baal mulai meminta api kepada allah mereka. Namun sampai petang, bahkan sampai mereka melukai diri “... tidak ada suara, tidak ada yang menjawab ...” (ayat 26). Lalu ketika tiba giliran Elia, ia maju dengan keyakinan penuh. Walau sendirian, ia tahu Tuhannya hidup. Ia percaya Tuhannya adalah Tuhan yang benar. Ia tak ragu sedikit pun Tuhannya dahsyat. Itu sebabnya ia bahkan meminta orang menyiram potongan lembu korbannya dengan air—12 buyung penuh (ayat 34)! Dan, ia hanya perlu berdoa dengan lembut. Maka, Tuhannya yang hidup mendengar dan menjawab doanya dengan ajaib (ayat 38). Hingga seluruh Israel kembali sujud kepada Tuhan. Keyakinan Elia kepada Tuhan tak digoyahkan oleh sedikitnya pendukung yang berpihak kepadanya. Tak dilemahkan oleh ancaman maupun tantangan yang menghadang. Keyakinan seperti ini dapat kita miliki juga bila jika mau terus bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Tuhan. Dengan terus setia mempelajari firman-Nya. Dan, dengan terus melibatkan Tuhan ketika menjalani hidup ini. JANGAN BURU-BURU MERASA LEMAH ATAU KALAH SEBAB KITA SELALU DAPAT MENGANDALKAN ALLAH | |
| Penulis: Agustina Wijayani | |
Kamis, 05 Mei 2011
Kamis 5 mei 2011: bau kotoran ternak
| Bau Kotoran Ternak (Amos 4:7-13) | |
| Ada pengamatan menarik ketika saya dan istri berkunjung ke Pulau Lombok. Di salah satu desa, pada waktu-waktu tertentu, ada kebiasaan penduduk untuk melaburi lantai rumahnya yang dari tanah dengan kotoran ternak. Wah, pasti bau! Iya, tetapi itu bau yang sengaja diciptakan. Maksudnya agar mereka selalu ingat bahwa kehidupan mereka dibangun atas dasar kerja keras; yaitu beternak sebagai pekerjaan sehari-hari. Bau itu dimaksudkan sebagai penggugah kesadaran. Amos adalah petani dan peternak dari dusun Tekoa (Amos 1:1). Nabi yang akrab dengan hewan dan tanah. Rupa, kondisi dan bau tanah dikenalnya dengan baik. Pesan kenabiannya kerap dikemas dalam bentuk seruan dan ajakan untuk mencermati gejala-gejala alam. Termasuk bencana alam (Amos 4:7,8), yang pada gilirannya menghadirkan hama dan penyakit, baik atas tanaman maupun manusia (ayat 9,10). Semua prahara alam yang membuat perkemahan tempat hunian orang Israel menjadi jorok dan berbau busuk, seharusnya menggugah kesadaran umat untuk “berbalik” atau bertobat. Sayang, Israel tak kunjung tergugah kesadarannya. Kerinduan Tuhan untuk menyapa kita sungguh luar biasa. Selain melalui firman-Nya, segala jalan ditempuh-Nya untuk menggugah kesadaran kita akan kehadiran-Nya. Segala sarana dipakai-Nya untuk berbicara kepada kita. Bukan hanya melalui kejadian sehari-hari, melainkan juga melalui pancaindra kita. Apa yang kita lihat, dengar, rasa, raba, dan cium, dapat selalu menggugah kesadaran kita, betapa nikmat hadirat-Nya dan betapa benar hikmat-Nya. Sudahkah indra kita peka akan sapaan-Nya? TUHAN MEMBERI KITA INDRA UNTUK MENYADARI KEHADIRAN-NYA LATIHLAH SEMUANYA AGAR KITA SEMAKIN PEKA | |
| Penulis: Pipi Agus Dhali | |
Rabu, 04 Mei 2011
Rabu 4 Mei 2011: Komunikasi
| Komunikasi (Amsal 18:9-13) | |
| “Bu, kurasa kita perlu mulai diet,” kata Pak Agung. Bu Agung mencebik [mencibir]. ”Ia menganggap aku semakin gemuk dan jelek,” pikirnya. Pada hari lain Bu Agung—dengan niat menghindarkan suaminya dari kena tilang—berkata, ”Mbok ya jangan ngebut kalau nyetir.” Pak Agung merengut, pikirnya, ”Huh, selalu saja ia menganggap aku ini ugal-ugalan.” Apabila pola komunikasi semacam itu dibiarkan berlarut-larut, Anda bisa membayangkan bagaimana kondisi rumah tangga Pak Agung. Ketidakjelasan dan kesalahpahaman dalam berkomunikasi dapat menimbulkan luka emosional. Komunikasi yang seharusnya menjadi jembatan penghubung antarmanusia, justru berdiri tegak menjadi tembok pembatas. Firman Tuhan mendorong kita mengutamakan kejelasan dalam berkomunikasi, seperti disarankan Salomo dalam nas hari ini. Jangan buru-buru menanggapi suatu pesan sebelum kita menyimak dan memahami benar maksudnya. Tanggapan yang sembrono hanya menimbulkan masalah. Apabila kita ragu-ragu atau tidak mengerti saat menerima pesan, jangan sungkan untuk meminta kejelasan. Metode ini disebut sebagai mendengarkan secara reflektif. Mendengarkan bukan sekadar berdiam diri ketika mitra kita berbicara, melainkan menyimak baik-baik untuk memahami maksudnya. Untuk memastikan, ulangi apa yang diucapkan orang itu, dan berilah ia kesempatan untuk menjelaskan. Bu Agung, misalnya, bisa bertanya baik-baik, ”Bapak mengajak Ibu berdiet, ya?” Lalu, biarkan Pak Agung menjelaskan apa maksudnya, dan kemudian Bu Agung dapat menanggapi dengan semestinya. Komunikasi yang jelas pun terlaksana. KOMUNIKASI YANG EFEKTIF BARU TERLAKSANA KETIKA KITA MENANGGAPI DENGAN BENAR PESAN YANG DISAMPAIKAN | |
| Penulis: Arie Saptaj | |
Selasa, 03 Mei 2011
Selasa 3 Mei 2011: Buah dan Proses
(Yoh 15:1-8)
Bagi yang pernah menanam/membudidayakan pohon anggur, mungkin mengerti kalau pohon anggur dapat tumbuh, berdaun lebat, subur, dan merambat ke segala arah tapi tidak berbuah. Supaya dapat berbuah harus dipangkas terlebih dahulu, dipotong ranting-rantingnya. Tanaman anggur ini dipangkas dua kali (pada awal pertumbuhan dan pada masa pertumbuhan) --> baca: http://id.shvoong.com/exact-sciences/agronomy-agriculture/1925441-cara-menanam-anggur-yang-baik/
Lalu apa hubungannya?
Seperti kita ketahui, hidup tak terlepas dari masalah. Juga bukan berarti bahwa kita dekat dengan Tuhan akan bebas dari masalah. Justru Tuhan menghendaki kita "berbuah" dari adanya masalah, agar kita senantiasa belajar dan terus belajar untuk menjadi semakin baik. Masalah ibarat "pangkasan" pada diri kita agar kelak berbuah dengan baik. Tapi diharapkan kita selalu mau berjuang dan berserah pada Tuhan karena kita percaya bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi kita.
Mengapa harus berbuah?
"(8) Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."
Hendaknya seperti kutipan ayat di atas. Kita berbuah dan berhasil dan dalam keberhasilan itu, Allah dipermuliakan. Janganlah sombong dan menganggap kita hebat karena sesungguhnya tidak ada sesuatupun akan berhasil jika Tuhan tidak berkenan kepada kita. Jadikanlah keberhasilan kita sebagai contoh yang baik dan berkenan bagi Tuhan. Di sini keberhasilan tidak saja dalam hal materi/karir/pendidikan. Tetapi juga bagaimana kita berhasil menjadi orang yang dibenarkan Tuhan. Benar di sini bukan berarti suci, tetapi sebagai manusia yang tidak luput dari dosa, kita berusaha hidup sedekat mungkin dengan ajaran Tuhan.
Caranya?
'(4) Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku."
Tinggal di dalam Tuhan. Hanya itulah satu-satunya jalan. Keberhasilan dalam segala hal bergantung dari Tuhan. Nothing else matter. Ada pepatah, lebih susah memelihara daripada mencapai. Mungkin suatu saat kita sudah berhasil berbuah. Namun untuk memelihara diri agar selalu berbuah (bukan hanya sekali) itu lebih sulit. Godaan dan tantangan bukan berarti hilang saat kita berbuah, tetapi kita harus siap untuk tetap berbuah di tengah kehidupan dunia yang semakin keras. Pelihara dan lakukan firman Tuhan dalam hidup kita dan selalu berdoa, mendekat pada Tuhan agar Tuhan selalu memberi kita kekuatan. Semoga kita bisa tegar dan terus berbuah di tengah kehidupan dunia jaman sekarang.
In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti. Amin
Senin, 02 Mei 2011
Senin 2 Mei 2011: Bublioburro
| Biblioburro (Keluaran 33:7-11) | |
| Bertahun-tahun ini Luis Soriano (38 tahun), seorang guru pria dari kota Magdalena, Kolombia, dengan setia menjalankan biblioburro—perpustakaan di atas keledai, ke daerah-daerah terpencil. Ia membawa ratusan buku di punggung dua keledainya, agar anak-anak di daerah pinggiran dapat belajar membaca, terbantu mengerjakan PR, dan mengenal dunia. Padahal untuk mencapai anak-anak itu, ia harus berjalan empat jam sekali jalan, dengan berbagai risiko. Hingga kini, sekitar 4.000 anak telah mendapat manfaat dari program biblioburro yang Soriano jalankan sejak 1990. Juga ratusan orangtua dan orang dewasa yang ikut belajar di situ. Musa—juga adalah seorang guru bagi Yosua. Musa banyak mengajari Yosua, dengan mengikutsertakannya dalam pengalaman Musa. Termasuk ketika Musa bertemu dengan Allah di Kemah Pertemuan, Yosua pun ada di situ (ayat 11). Ya, sebagai pemimpin yang dihargai Allah dan disegani seluruh umat Israel (ayat 8,10), Musa sadar ia tidak dapat terus ada bersama-sama Israel. Sementara, pekerjaan Tuhan harus terus berlangsung. Itu sebabnya, membimbing Yosua adalah salah satu tugas pentingnya. Inilah peran mulia guru. Mewariskan sebaik mungkin segala pengetahuan dan pengalamannya, demi keberlangsungan hidup masa depan yang lebih baik. Untuk itu, guru bahkan mesti berbagi hidup dengan murid-muridnya. Mereka berkorban, seperti Soriano. Mereka setia membimbing, seperti Musa. Mari hargai setiap orang yang berperan sebagai guru bagi kita, pada hari spesial pendidikan ini. Kiranya Tuhan memperbarui semangat dan kemampuan setiap guru—untuk memberi lebih! GURU YANG BAIK TIDAK MENGUMPULKAN ILMU UNTUK DIRI SENDIRI TETAPI MENERUSKANNYA AGAR KEHIDUPAN MASA DEPAN LEBIH BAIK | |
| sumber: renunganharian.net - Agustina Wijayani | |
Minggu, 01 Mei 2011
Minggu 1 Mei 2011: Sabat untuk manusia
| Sabat untuk Manusia (Markus 2:23-28) | |
| Tuhan mencipta manusia segambar dengan-Nya. Maka, seperti Allah beristirahat setelah 6 hari mencipta, manusia juga butuh istirahat setelah 6 hari bekerja, untuk memulihkan kesegaran jasmani dan rohaninya. Namun orang Farisi mengartikan lain. Mereka komplain ketika murid Yesus memetik gandum pada hari Sabat. Para murid dianggap melanggar Sabat seperti ketentuan para Farisi, tetapi sesungguhnya tidak menurut Taurat. Yesus tak pernah membatalkan Sabat. Justru Dia berupaya meletakkan fungsi Sabat yang sesuai maksud Allah. Yakni untuk menyejahterakan manusia, bukan membebaninya. Sabat mengingatkan manusia akan Allah Penciptanya, yang memberinya tanggung jawab mengelola ciptaan-Nya selama 6 hari. Agar pada hari ke-7 manusia dapat beristirahat, menikmati jerih lelahnya (Pengkhotbah 2:22,24), dan memulihkan kesegaran relasi dengan Allah dan sesama, sehingga seluruh hidupnya dipenuhi ucapan syukur. Bagi Israel, Sabat juga mengingatkan akan pembebasan Allah dari Mesir dan masuknya mereka ke Kanaan, negeri perjanjian (Ulangan 5:15). Mengabaikan Sabat berarti mengabaikan Allah, Pencipta yang memelihara dan menyelamatkan manusia. Menikmati ciptaan tanpa memedulikan penciptanya membuat manusia mengilahkan materi dan dirinya sendiri. Inilah dosa terbesar. Kedatangan Kristus membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan hukum buatannya sendiri, yang membelenggunya. Apakah Anda masih diperbudak pekerjaan demi mengejar materi dan pemuasan nafsu jasmani? Datanglah kepada Yesus Sang Pembebas. Belajarlah kepada-Nya agar Anda mampu menikmati hidup sebagaimana yang Allah mau. TUHAN MENGADAKAN SABAT UNTUK DINIKMATI BUKAN AGAR ANAK-ANAK-NYA TERBEBANI | |
| sumber: renunganharian.net - Susanto, S.Th. - Christ & Sylvia | |
Kamis, 28 April 2011
Kamis, 28 april 2011: Sesumbar Voltaire
| Sesumbar Voltaire (Matius 24:3-14) | |
![]() Dua belas nelayan Yahudi yang bodoh memulai kekristenan; satu orang Prancis yang bijaksana akan menghentikannya.” Ini pernyataan filsuf Prancis, Voltaire, saat menghadap Raja Prusia. Ia memperkirakan bahwa dalam waktu 100 tahun Alkitab akan musnah, dan 92 buku karyanya akan menggantikannya. Namun, 20 tahun setelah kematiannya, Lembaga Alkitab Jenewa membeli rumah peninggalannya untuk dijadikan tempat mencetak Alkitab. Rumah itu kemudian menjadi markas Lembaga Alkitab Bahasa Inggris dan Bahasa Asing. Selain itu, Alkitab terus menjadi buku laris; adapun 6 jilid karya Voltaire pernah terjual hanya seharga delapan ribu rupiah. Yesus mengajarkan bahwa sebelum Dia datang kembali untuk kedua kali, kabar baik tentang Kerajaan-Nya, yaitu berita keselamatan, akan dikabarkan ke seluruh dunia. Injil yang penuh anugerah itu akan membawa kita ke dalam Kerajaan-Nya yang mulia. Sebagai kesaksian bagi semua bangsa, Injil menyatakan pikiran dan kehendak Allah bagi manusia, serta upah Allah bagi mereka yang setia. Bagi mereka yang percaya, Injil mendatangkan keselamatan. Adapun mereka yang bersikeras tidak percaya, akan dibinasakan. Tuhan Yesus memercayakan misi pemberitaan Injil kepada para murid-Nya, dan orang percaya sepanjang sejarah gereja telah melanjutkannya. Tidak ada yang sanggup menghentikan misi yang sekarang ada di pundak kita ini. Kita dapat turut memberitakan Injil ketika Tuhan membukakan kesempatan dan juga dengan mendukung proyek penterjemahan Alkitab atau pelayanan yang melakukan penyebarluasan Alkitab. AMANAT PEMBERITAAN INJIL BUKANLAH BEBAN MELAINKAN KEHORMATAN UNTUK TURUT DALAM MISI PENYELAMATAN | |
| sumber: renunganharian.net - Arie Saptaji - Christ & Sylvia | |
Rabu, 27 April 2011
Rabu 27 April 2011: Pantaskah?
| Pantaskah? (Amsal 31:1-9) | |
| Sari berang. Istri pendeta tadi menegurnya di gereja, karena ia mengenakan kaus dan rok mini ketika mengikuti ibadah Minggu. “Kita perlu berpakaian pantas saat beribadah,” kata istri sang pendeta. Di dalam hati Sari mengumpat, “Apanya yang tidak pantas? Tidak bolehkah aku mengikuti perkembangan mode? Apakah menurut Alkitab, memakai rok mini itu dosa?” Pantas artinya cocok, sesuai, patut, atau layak. Berbicara soal kepantasan tidak selalu berkaitan dengan dosa. Ini menyangkut hikmat dalam membawa diri, sesuai dengan status dan lingkungan. Di Israel, misalnya, tidak ada larangan bagi raja untuk meminum anggur. Rakyat jelata pun biasa minum anggur sampai mabuk guna melupakan sejenak susahnya hidup (ayat 6,7). Dalam pesta perjamuan raja, minum anggur adalah hal biasa. Namun, Lemuel dinasihati ibunya untuk tidak meminum anggur. “Tidaklah pantas bagi raja meminum anggur,” katanya. Mengapa? Minuman keras bisa memabukkan. Jika seorang kepala negara mabuk, ia tidak dapat memutuskan perkara dengan benar dan adil. Akibatnya, rakyat bisa menjadi korban ketidakadilan dan penindasan! Bicara soal kepantasan bukan melulu mempersoalkan benar-salahnya suatu tindakan. Ada hal yang tidak salah, tetapi tidak pantas dilakukan oleh seorang dengan status atau jabatan tertentu. Orang bisa tersandung jika melakukannya. Setiap kita berstatus “orang kristiani”. Sebagian lagi bahkan pemimpin kristiani. Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri: Sudahkah saya bersikap, berperilaku, berbicara dan berpenampilan pantas, sesuai status yang saya sandang? HANYA ANAK KECIL YANG SELALU BERTANYA “BOLEH ATAU TIDAK” SEORANG DEWASA PERLU BERTANYA “PANTAS ATAU TIDAK” | |
| sumber: renunganharian.net - Juswantori Ichwan | |
Selasa, 26 April 2011
| Sukses tetapi Kasihan | Markus 10:17-30 |
| Sungguh pemuda sukses yang hebat! Ia masih belia, tetapi sudah menjadi pemimpin dan kaya raya (bandingkan Matius 19:20-22 dengan Lukas 18:18). Tak hanya kaya materi, tetapi juga secara ”rohani”. Sejak muda ia dididik mendalami Hukum Taurat dan menjalankannya (ayat 20). Ia dikagumi di lingkungan komunitas Yahudi saat itu. Ia juga dipandang berbakti kepada orangtua, sebab ia menghormati ayah-ibunya sejak belia dan tetap menghormatinya meski sudah sukses. Siapa tak bangga punya anak seperti ini? Dengan kerinduan dan semangat, ia berlutut di hadapan Yesus—rabi muda yang menyedot massa karena kharisma dan kuasa-Nya dalam berkhotbah dan mengadakan tanda ilahi. Ia mohon petunjuk Yesus; apa lagi yang perlu diperbuat agar layak masuk ke Kerajaan Allah. Dalam berelasi dengan sesama, ia patut diacungi jempol. Dalam berbuat baik, ia hebat. Namun, ada satu yang kurang, dan hanya Yesus yang tahu: bahwa kekayaan materi, martabat sosial, dan ”kekayaan rohani” yang ia punya menjadi ilah yang diandalkan sebagai ”tiket” ke surga—menggantikan Allah. Maka, ia diminta menjual semua, membagikannya ke orang miskin, dan mengikut Yesus, sebagai bukti bahwa ia diselamatkan hanya oleh belas kasihan Allah. Betulkah ia merasa perlu petunjuk Yesus? Tidak! Sebab ia kecewa dan mengabaikan tawaran sejati untuk memasuki Kerajaan Allah. Alasan utamanya karena ”banyak hartanya” (ayat 22). Pemuda ”sehebat” ini ternyata tak layak masuk Kerajaan Allah. Bagaimana dengan Anda? Beranikah Anda meletakkan seluruh kebanggaan Anda sebagai manusia, lalu datang kepada Allah sebagai orang yang miskin dan haus akan kebenaran? SEGALA KEHEBATAN MANUSIA TAK MEMBAWA KE SURGA SUNGGUH HANYA KEMURAHAN YESUS YANG MEMBAWA KITA KE SANA | |
| sumber: renunganharian.net - Susanto, S.Th. - Christ & Sylvia | |
Senin, 25 April 2011
Senin, 25 April, 2011 : Uang?
Bacaan: Mat 28:8-15
“Dengan uang Anda boleh membeli apa saja yang Anda suka.
Celakanya, kepuasaan pun bisa dibayar/didapatkan dengan uang Anda.”
Untuk memuaskan rasa benci mereka kepada Yesus maka 30 keping perak diberikan kepada Yudas Iskariot. Demikian pun untuk memutar balikan fakta alias berbohong mereka pun memberi sejumlah besar uang kepada para pengawal kubur Yesus untuk menebarkan berita yang tidak benar yang dicatat oleh Matius bahwa berita ini masih tersebar di kalangan Yahudi bahkan mereka yang membenci Yesus sampai sekarang, yakni kubur kosong terjadi bukan karena kebangkitan Yesus melainkan datangnya para murid sewaktu pengawal tertidur, lalu mengambil jenazah-Nya. Dengan uang kita bisa membeli rumah, mobil, makanan dan minuman. Dengan uang kita bisa membeli tubuh orang lain, pun sebaliknya karena uang kita bisa menjual diri...maaf, bila terlalu kasar! Pokoknya, uang menjadi sangat penting dalam hidup setiap manusia dan ini menjadi fakta yang tak terbantahkan. Pertanyaan yang hendak direnungkan pagi ini yakni; “Sebenarnya apa yang salah dengan uang?”
Uang hanyalah alat tukar yang tidak berguna bila tidak digunakan oleh saudara dan aku. Uang itu berfungsi bila kita mempunyai keinginan, bila kita memerlukan sesuatu dan bahkan ketika nafsu kita tak bisa terbendung maka uang pun memainkan peranan penting untuk memuaskannya. Ternyata kebenarannya ada di sini, tidak ada yang salah dengan uang, karena justru yang menggerakkan semuanya adalah nafsu dan keinginan kita yang tak bisa terkontrol; Selalu ingin yang lebih, selalu ingin yang banyak, bahkan selalu ingin yang cantik dan tampan pun bisa didapatkan dengan uang. Dan, semuanya bukan karena uang melainkan karena nafsu dan keinginan kita. Bukankah karena ingin mobil maka kita pun mengeluarkan uang? Bukankah karena ingin tampil lebih cantik maka salon pun kita kunjungi setiap minggu bahkan beberapa kali dalam seminggu? Bukankah karena ingin sex maka kita pun mengunjungi tempat prostistusi...menginginkan gadis bahkan istri orang lain. Tapi juga karena ingin hidup mewah diri pun dijual untuk mendapatkan uang. Masa sih? Semoga tidak! Wow...maaf karena sudah terlanjur jauh dari isi sebuah renungan.
Karena itu, ketika Anda membaca renungan pagi ini maka ambilah waktu sejenak dan renungkan serta evaluasilah dirimu sendiri apa yang saja yang Anda telah perbuat dengan uang Anda? Syukur jika uangmu Anda gunakan untuk membantu orang lain, memenuhi kebutuhan (keperluan) keluarga, dan lain-lainnya. Akan tetapi jika uangmu telah Anda gunakan untuk hal yang keliru dan salah, apalagi yang membuatmu berdosa maka saya hanya mau mengingatkan Anda sebagai saudaraku bahwa “sebenarnya tidak ada yang salah dengan uang, tetapi keinginan dan nafsu yang tak terkontrollah yang membuat kita salah menggunakan uang itu.” Dan celakanya, kita pun seperti para pemimpin Yahudi di zaman Yesus, yang menggunakan uang untuk memuaskan keiginginan dan nafsu mereka. Dengan uang mereka telah membayar orang lain untuk menebarkan cerita bohong. Akan tetapi, semoga bukan karena dan demi uang, kita menjual apa yang kita miliki; nama baik, sahabat kenalan, keluarga, pangkat dan jabatan, tetapi terlebih semoga harga kita tidak dijual hanya karena sekeping uang yang didapatkan hari ini dan esok akan lenyap. Demikianlah nasehatku kepadamu sebagai saudaraku; Carilah uang dengan cara yang halal, gunakanlah uangmu dengan bijaksana, dan janganlah menjadi hamba uang. Semuanya terserah Anda. Aku hanya membisikan kepadamu sebagai saudaraku akan kata-kata Yesus ini: “Carilah harta yang tak dapat binasa dan bukan yang akan hancur karena dimakan ngengat.” Anda tahu harta yang dimaksudkan Yesus itu.
diambil dari renungan FB Gereja Katolik
- Christ & Sylvia
Minggu 24 April 2011: Penghalang Mata Iman
| Penghalang Mata Iman (Lukas 24:13-32) | |
| Tuhan Yesus sudah bangkit. Namun, sikap para murid beragam; ada yang percaya, ada yang ragu-ragu, ada juga yang masih bingung dan tidak percaya. Lalu di jalan yang menuju ke Emaus itu, Tuhan Yesus menampakkan diri lagi. Kali ini kepada dua orang murid, yang rupanya tidak termasuk ke dalam dua belas murid yang pertama. Anehnya, kedua murid itu tidak mengenali Dia. Padahal sudah sekian lama mereka bersama-Nya. Dikatakan, ”Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka” (ayat 16). Dalam hidup kita sebagai orang percaya, bukankah kita pun kerap mengalami hal serupa—ketika kita kehilangan kepekaan akan kehadiran Tuhan Yesus? Seolah-olah ada sesuatu yang menghalangi mata iman kita. Sesuatu itu bisa berupa pikiran negatif; seperti kekhawatiran, kekecewaan, kemarahan, kebencian, atau berupa ambisi-ambisi yang tidak pada tempatnya. Akibatnya, hidup beriman kita jadi terganggu. Kita merasa hampa. Tuhan seakan-akan sangat jauh. Kita juga menjadi sulit bersyukur dan tidak bisa lagi menikmati hidup ini sebagai anugerah Allah. Lalu bagaimana? Para murid akhirnya menyadari kehadiran Tuhan Yesus, setelah mereka mengundang Dia untuk tinggal bersama mereka (ayat 29). Adakah kita merasa hidup ini begitu muram, Tuhan seolah-olah jauh dari hidup kita? Tidak ada cara lain, bukalah pintu hati kita buat Dia. Undang Dia masuk ke dalam hidup kita, dan persilakan Dia menjadi pandu atas seluruh langkah kita. Ketika itulah mata iman kita akan dicelikkan, betapa sesungguhnya Dia tidak pernah jauh dari kita. TUHAN TIDAK PERNAH JAUH DARI KITA KITALAH YANG KERAP MENJAUH DARI DIA | |
| sumber: renunganharian.net - Ayub Yahya | |
Selasa, 19 April 2011
Selasa 19 April 2011 Kesempatan Gagal
| Kesempatan Gagal (Kisah Para Rasul 15:36-40) | |
| Dalam bukunya Growing Kids God’s Way, Gary dan Anne Marie Ezzo mengatakan bahwa orangtua kerap tak memberi kebebasan kepada anak untuk mengalami kegagalan. Umumnya orangtua begitu suka akan kemenangan, hingga agak kehilangan perspektif dan tak bisa menghargai pelajaran yang dapat dipetik dari kegagalan. Maka anak lebih memperjuangkan bagaimana caranya ia tidak gagal dan mengecewakan orangtua, walau untuk itu ia kemudian takut pada tantangan. Barnabas adalah sosok gembala yang memperhatikan orang-orang yang dibimbingnya. Suatu kali seorang muda bernama Markus menjadi murid bimbingnya. Sayang, Markus ini pernah gagal menjalankan tugasnya—ia meninggalkan rombongan misi Paulus hingga mereka kekurangan orang di Pamfilia. Ini membuat Paulus kecewa (ayat 38). Tak heran, ketika Paulus hendak mengadakan perjalanan misi kembali, ia menolak permintaan Barnabas untuk mengajak Markus lagi. Namun Barnabas tetap memperjuangkan Markus hingga ia berpisah dengan Paulus (ayat 39). Oleh kegigihan Barnabas yang tidak menyerah membimbing pribadi yang pernah gagal, Markus menjadi pelayan Tuhan yang berharga. Ketika orang-orang dekat kita—keluarga, sahabat, rekan kerja—mengalami kegagalan; gagal memenuhi harapan, gagal menepati janji, gagal mengambil keputusan yang benar, tak ada gunanya kita menunjukkan kekecewaan. Sebaliknya, yang perlu kita lakukan adalah menjadi pendukung yang tetap ada bagi mereka dan tak menyerah mendampingi. Tetap memberinya kesempatan dan kepercayaan baru. Tetap mendukungnya saat ia belajar tentang arti perjuangan, kerendahan hati, serta penyerahan diri kepada Tuhan. SETIAP MOMEN KEGAGALAN SESUNGGUHNYA BISA MENJADI PINTU UNTUK SESEORANG MEMASUKI BABAK KEDEWASAAN YANG BARU | |
| Penulis: Agustina Wijayani | |
Senin, 18 April 2011
Senin 18 April 2011: teori atau praktek
| Teori atau Praktik? (Yakobus 1:19-27) | |
| Sebuah humor menceritakan tentang seseorang yang ke surga. Di sana ia melihat sebuah rak berisi benda-benda yang tampak aneh. "Apa itu?" tanyanya kepada malaikat. Jawab malaikat, "Itu telinga dari orang-orang yang ketika hidup di dunia mendengarkan hal-hal yang harus mereka lakukan, tetapi tidak melakukannya. Jadi waktu meninggal, telinga mereka saja yang masuk ke surga sementara bagian tubuh yang lain tidak." Lalu ada rak yang lain, dan malaikat menjelaskan, "Ini lidah orang-orang yang ketika hidup di dunia memberi tahu orang lain untuk berbuat baik dan hidup baik, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Maka ketika meninggal, lidah-lidah mereka saja yang masuk ke surga dan bagian tubuh yang lain tidak." Humor ini mengingatkan kita untuk berhenti menjadi orang kristiani yang hanya suka mendengarkan khotbah atau seminar yang berbobot, tetapi tak pernah melakukan firman Tuhan yang didengar. Berhenti menjadi orang kristiani yang fasih berbicara tentang hal rohani, tetapi tak ada tindakan nyata. Berhenti menjadi orang kristiani yang pandai berteori, tetapi tak pernah mempraktikkannya. Ada orang kristiani yang bangga dengan pengetahuannya tentang Allah dan hal-hal rohani. Namun, jika tidak dibarengi perbuatan nyata, semuanya sia-sia. Sebab, di surga nanti kita tidak akan ditanya sejauh mana kita memahami Alkitab atau sejauh mana pengetahuan kita tentang kekristenan. Kita tidak sekadar mempertanggungjawabkan apa yang kita ketahui, tetapi apa yang kita perbuat. Tuhan menuntut buah-buah yang nyata--yang bisa dirasakan, dinikmati, dan memberkati orang lain. SERIBU PERKATAAN DAN PENGETAHUAN TIDAK BERARTI TANPA ADA SATU TINDAKAN YANG NYATA | |
| sumber: renunganharian.net - Petrus Kwik - Christ & Sylvia | |
Minggu, 17 April 2011
Minggu 17 April 2011
| Pelayan Tuhan Sejati (Markus 1:1-8) | |
| Sungguh memprihatinkan bila banyak gereja--sebagai umat Tuhan--terpecah-belah. Bukan hanya dalam denominasi-denominasi besar. Dalam satu denominasi pun, tak jarang terjadi perpecahan. Bahkan, dalam satu gereja bisa juga terjadi perpecahan. Ada banyak hal yang bisa menjadi penyebab, tetapi salah satu penyebab besarnya adalah fanatisme umat terhadap sosok hamba Tuhan. Tak jarang ada hamba Tuhan yang tanpa sadar membangun kekaguman jemaat kepada diri sendiri. Mengajarkan prinsip agama dan moral hasil penemuannya sendiri, dan bukan pada Alkitab. Memang ada ayat-ayat Alkitab yang dikutip, tetapi sekadar mendukung pendapatnya sendiri. Sungguh berbeda dengan Yohanes Pembaptis. Ia hanya memperkenalkan diri sebagai suara orang yang berseru-seru di padang belantara. Seruannya ditujukan untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus, Mesias yang dijanjikan. Ia memanggil semua orang agar bertobat dan dibaptis, sebagai bagian dari persiapan menyambut kedatangan Yesus. Ia tidak membangun popularitasnya sendiri atau mengumpulkan banyak pengikut fanatik yang mengaguminya. Ia mengarahkan semua orang kepada Yesus. Sebab, Yesuslah yang menjadi pusat pelayanannya. Ia menyatakan bahwa Yesus lebih besar dari dirinya. Ia juga memberitakan firman Tuhan bukan untuk memperkaya diri--ia tidak memusingkan apa yang ia pakai, ia makan, atau minum (ayat 6), asal Injil diberitakan. Sebagai anggota gereja Tuhan, mari periksa diri, siapakah Kepala gereja kita? Siapakah pusat hidup dan ibadah kita? Sebagai hamba Tuhan, siapakah yang kita layani? Ingatlah Yohanes Pembaptis, dan bertobatlah. NB: Ingatlah pada pesan Yesus kepada Petrus. Jangan sampai perpecahan terjadi. KETIKA DIRI SENDIRI MENJADI PUSAT, PELAYANAN MENJADI SIA-SIA KETIKA YESUS MENJADI PUSAT, SEMUA MENJADI INDAH DAN MULIA | |
| sumber: renunganharian.net - Susanto, S.Th. - Christ & Sylvia | |
Sabtu, 16 April 2011
Sabtu 16 April 2011: Jangan kaget
| Jangan Kaget! (1 Petrus 4:12-19) | |
| Berita-berita mengenai pembakaran gereja, penganiayaan orang kristiani, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain, kerap membuat kita bertanya-tanya, "Mengapa ini harus terjadi? Bukankah kita melakukan hal yang baik? Bukankah kita melayani Tuhan? Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Apa salah kita?" Kita kaget, terkejut, bahkan mungkin meragukan Tuhan. "Tidakkah Tuhan sanggup melindungi anak-anak-Nya? Kalau Dia Mahakuasa, mengapa Dia membiarkan gereja-Nya dianiaya?" Pertanyaan ini juga pernah muncul di gereja pada abad mula-mula. Namun dalam suratnya Petrus menegaskan bahwa kita tak perlu heran jika api siksaan datang (ayat 12). Kita juga tak perlu "gembar-gembor" sebab bagi orang percaya penderitaan bukan hal luar biasa (ayat 12). Sebaliknya, Petrus menasihati kita supaya bersukacita, bahkan berbahagia ketika menghadapi penderitaan (ayat 13,14). Petrus, adalah orang yang sama yang pernah menegur Yesus ketika mengatakan bahwa Dia harus menderita (lihat Matius 16:21-23). Petrus yang dulu tidak setuju Mesias harus menderita, kini sadar bahwa penderitaan di dunia karena nama Kristus bukan hal yang hina atau memalukan. Malahan justru suatu kemuliaan (ayat 14,16). Ketika penderitaan atau aniaya kita alami, ada dua hal yang bisa kita lakukan. Pertama, berdoa dan bertanya pada Tuhan, apakah penderitaan ini terjadi karena kesalahan kita? (ayat 15). Kedua, jika kita tidak melakukan hal yang salah, tetapi kita menderita, maka kita jangan malu atau sedih. Sebaliknya, kita bisa memegang erat pengharapan dalam firman Tuhan bahwa kita patut berbahagia jika dihina karena Kristus, karena itu berarti Roh Allah menyertai kita. KITA TIDAK MENGHARAPKAN PENDERITAAN TETAPI JIKA KITA HARUS MENGHADAPINYA PERCAYALAH TUHAN SETIA | |
| Penulis: Grace Suryani | |
Jumat, 15 April 2011
Jumat 15 April 2011: Sayap Rajawali
| Sayap Rajawali (Ulangan 32:11-12) | |
| Di wilayah pegunungan Palestina hidup beberapa jenis burung rajawali. Ada rajawali biasa, spesies yang lazim. Ada rajawali emas dengan bulu berkilau. Ada pula rajawali tutul atau berbintik. Serta hidup juga rajawali pemangsa reptil. Namun yang pasti, semua jenis burung rajawali suka terbang di ketinggian--di mana angin berembus kencang. Maka, tak heran rajawali punya sayap yang kuat. Pada sayap itu terletak kekuatan rajawali. Akan tetapi, sayap rajawali tidak tiba-tiba menjadi kuat. Ada ceritanya. Sejak kecil burung ini memang terlatih untuk terbang tinggi. Sang induk selalu menempatkan sarangnya di tempat tinggi (Yeremia 49:16). Lalu jika sudah tiba saatnya, ia akan membongkar sarang itu, sehingga anak-anaknya "terjun bebas" di udara. Dipaksa untuk belajar terbang di tengah empasan angin kencang. Sementara sang induk melayang-layang di atas, sembari menjaga. Jika mereka tidak mampu terbang lagi, ia melesat ke bawah untuk menopang mereka di atas kepak sayapnya. Seperti itulah Tuhan melatih umat-Nya, agar bertumbuh kuat dan dewasa dalam iman. Acap kali orang hanya menaruh perhatian pada pertambahan. Tambah usia, gaji, pangkat, kekayaan, popularitas. Namun, mengabaikan pertumbuhan--tumbuh dalam iman dan kedewasaan. Padahal itulah yang menjadi perhatian Tuhan. Dia mau kita bertumbuh. Bagai induk rajawali, Dia melatih kita di tengah empasan "angin" kesukaran dan tantangan hidup. Sebab, iman tidak tumbuh dalam kemudahan hidup, tetapi sebaliknya. Dan, ketika Tuhan mengizinkan kesukaran terjadi, Dia tetap mengawasi sembari melatih iman kita agar bertumbuh. MELALUI KESUKARAN HIDUP TUHAN MELATIH KITA MENJADI KUAT DAN SIAP DIPAKAI-NYA UNTUK MENJADI BERKAT | |
| Penulis: Pipi Agus Dhali | |
Rabu, 13 April 2011
Kamis 14 April 2011: Tuhan membuat masalah?
Apa tidak salah baca? Tidak. Anda tidak salah baca, saya pun tidak salah tulis. :D
Masalah sudah pasti merupakan hal biasa dan sering kita hadapi dalam keseharian hidup kita. Tidak mungkin seseorang yang hidup bisa bebas dari masalah. Ketika kita menghadapi masalah, dan ditanya siapa penyebabnya, biasanya kita menyalahkan orang lain, setan, atau diri sendiri. Menyalahkan Tuhan? Emang berani? :p Mungkin kita sudah menjalankan sesuatu dengan baik, lingkungan juga terlihat sangat mendukung, namun ada masa di mana tiba-tiba masalah tersebut datang dengan sendirinya
Padahal masalah dari Tuhan itu memang ada. Seperti di dalam Injil Yohanes 9:1-3. Murid-murid Yesus bertanya apakah penyebab orang itu buta, apakah karena dosa/kesalahannya? Namun Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia."
Inilah kenyataannya, Tidak semua orang menderita/mengalami masalah karena dosa atau kesalahan kita, ataupun karena iblis. Bisa juga karena kehendak Tuhan.
Ciri umum masalah jenis ini adalah, datang secara tiba-tiba. Setelah kita intropeksi, kita tidak menemukan kesalahan manusia. Memang masalah yang disebabkan oleh Tuhan dapat melibatkan manusia.
Lalu apa tujuannya Tuhan memberi masalah? Apakah Tuhan tidak sayang kita? SAMA SEKALI TIDAK. TUHAN SAYANG PADA KITA SEMUA. Tujuannya tercantum di Yoh 9:3 : pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam masalah yang menimpa kita.
Contoh yang pernah mengalami hal demikian adalah Ayub. Tuhan mengijinkan iblis mencobai Ayub,
Mungkin kita berpikir. Lho kok jadi kita yang kena tumbalnya? Coba kita lihat apa yang terjadi dari orang-orang yang berhasil melewati masalah dari Tuhan. Yusuf menjadi penguasa Mesir, Orang Israel masuk ke tanah perjanjian, Daud menjadi raja Israel terbesar, dan Ayub bisa mengenal Tuhan secara langsung dan Petrus menjadi batu penjuru gereja. Siapa yang untung? Tuhan atau manusia yang bersangkutan? :D
Setelah kita tahu semua ini, lalu apa yang bisa kita perbuat? Karena masalah ini datang dari Tuhan, tentu saja solusinya juga datang dari Tuhan, langkah awal adalah berdoa dan meminta kekuatan + petunjuk untuk mengataasi masalah ini. Lakukan sesuai perintah-Nya
Tuhan memberkati,
In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti. Amin
