Rabu, 30 Maret 2011

Rabu 30 maret 2011: Benih kepercayaan

Benih Kepercayaan(Kisah Para Rasul 9:26-31)




Pada pemakaman Kathryn Lawes, istri mantan sipir penjara di New York, para narapidana beramai-ramai melayat. Sejenak mereka menghirup udara bebas. Seusai upacara, tak satu pun dari mereka berusaha kabur. Dengan patuh, semua kembali ke sel masing-masing. Apa rahasianya? Semasa hidup, Nyonya Lawes membiarkan anak-anaknya bermain dengan para narapidana itu. Ia percaya mereka akan berlaku baik kepada anak-anaknya. Kesan dipercayai, itu yang membekas di hati para narapidana. Maka, mereka tak mau menodai kepercayaan yang diberikan waktu diizinkan keluar untuk melayat orang yang telah memercayai mereka.

Sejumput benih kepercayaan ditanam, hasilnya tak mengecewakan. Semua orang butuh dipercayai. Besar kemungkinan kebaikan dalam dirinya tumbuh jika ia dipercayai. Kita kagum akan sosok Paulus, penginjil terbesar sepanjang zaman. Namun, jangan lupa bahwa pada awal ia menjadi penginjil, Barnabas memiliki peran penting. Peran apa? Ia percaya kepada Saulus, sementara murid yang lain tidak. Ia mau menerimanya, sementara yang lain takut, mengingat sepak terjangnya di masa silam. Berbekal kepercayaan Barnabas, Saulus giat meyakinkan orang akan pertobatannya dan terus bersaksi bagi Yesus. Hingga kini kita mengenalnya sebagai Rasul Paulus.

Semua hubungan baik berlandasan kepercayaan. Suasana kerja yang baik dibangun di atas kepercayaan. Prestasi bertumbuh karena ada kepercayaan. Pelayanan yang berbuah memerlukan sikap saling percaya. Sudahkah kita menanam benih percaya-memercayai dalam berkeluarga, berteman, bekerja sama, bergereja, bermasyarakat? Jika kita ingin dipercayai, begitu pun orang lain.

ORANG YANG DIPERCAYAI DENGAN CARA YANG BENAR

AKAN MENJADI ORANG YANG DAPAT DIPERCAYA—Abraham Lincoln


sumber: renunganharian.net - Pipi Agus Dhali

- Christ & Sylvia

Selasa, 29 Maret 2011

Selasa 29 maret 2011: Bersukacitalah selalu

Bersukacita Selalu ( Filipi 4:1-7 )





Seseorang diberi dua kotak oleh Tuhan, berwarna hitam dan emas. Ke dalam kotak hitam, Tuhan memintanya memasukkan segala kesedihan dan masalahnya. Sedangkan segala sukacita dan pengalaman menyenangkan dimasukkan ke kotak emas. Setelah sekian waktu, ia heran. Kotak emasnya bertambah berat, sementara kotak hitamnya tetap saja ringan. Penasaran, orang itu membuka kotak hitamnya. Ternyata, ada lubang di dasar kotak itu hingga setiap hal yang ia masukkan, tak tersimpan. Ketika ia menanyakannya kepada Tuhan, Dia menjawab, ”Agar kau selalu menghitung berkatmu, dan melupakan segala kepedihanmu.”

Hati dan perasaan kita bisa diguncang oleh berbagai emosi dalam hari-hari yang kita jalani; susah, cemas, takut, sebab banyak perkara menimpa kita secara pribadi. Akan tetapi, firman Tuhan meminta kita senantiasa bersukacita. Bagaimana bisa? Kuncinya: bersukacita di dalam Tuhan (ayat 4). Apa yang kita rasakan mungkin tidak selalu hal yang mendatangkan sukacita, tetapi Tuhan meminta kita dapat memilih sikap untuk tetap bersukacita, dengan menghitung berkat yang kita terima. Dia telah memberi kita begitu banyak kemurahan—tidak saja untuk hidup di dunia, tetapi juga sampai kekekalan.

Paulus juga mengatakan bahwa kita dapat meraih sukacita dalam Tuhan dengan berbuat kebaikan (ayat 5), sebab dengan memberkati, maka kita sadar bahwa kita punya berkat lebih. Pula dengan tidak khawatir, sebab semua yang kita perlu pun, boleh kita mintakan kepada Bapa (ayat 6). Maka, damai sejahtera yang melampaui akal—yang melampaui segala emosi yang bisa menyerang, akan memampukan kita untuk tetap bersukacita (ayat 7).

TUHAN MEMAMPUKAN KITA MENANG ATAS KESUSAHAN

MELALUI PENYERTAAN-NYA YANG TIADA BERKESUDAHAN


sumber: renunganharian.net - Agustina Wijayani

- Christ & Sylvia

Senin, 28 Maret 2011

Senin 28 Maret 2011: Takut Berharap Lebih

Takut Berharap Lebih (Yohanes 20:11-18)


Setelah dikhianati suaminya, seorang istri berkata: ”Sekarang saya tidak lagi berharap banyak kepadanya. Tidak berharap diperhatikan; diberi hadiah ulang tahun; ditelepon jika ia dinas di luar kota. Saya sudah banyak dikecewakan. Jadi, saya tidak lagi mau menggantungkan harapan kepadanya.” Ketakutan dikecewakan lagi telah membuat sang istri menurunkan harapannya pada sang suami. Ia takut berharap lebih.

Ketika Maria datang ke kubur Yesus pada pagi Paskah, ia pun tidak berani berharap banyak. Maria datang sekadar hendak merawat jenazah Yesus. Tidak lebih dari itu! Ia tidak berharap akan menjumpai Yesus yang sudah bangkit, karena baginya harapan itu tidak realistis. Terlalu muluk. Bisa kecewa jika nanti hal itu tidak terjadi. Maka, saat ditanya, ”Siapa yang engkau cari?” Maria menjawab bahwa ia ingin mencari mayat Yesus yang diambil orang. Ia masih belum menyadari dengan siapa ia sedang bercakap-cakap. Setelah disapa dengan namanya, barulah Maria tersadar: Yesus hidup. Yesus berdiri di hadapannya! Dari situ ia belajar: Yesus bisa memberi jauh melebihi apa yang ia harapkan.

Berharap banyak pada manusia memang bisa mengecewakan, seperti pengalaman seorang istri tadi. Manusia tidak bisa kita andalkan. Akan tetapi, Allah berbeda. Paulus berkata, kuasa-Nya ”hebat” bagi kita. Jadi, taruhlah seluruh harapan masa depan Anda kepada-Nya: mulai dari studi, pekerjaan, jodoh, keluarga, sampai pemeliharaan Allah di masa tua. Walau tak semua kemauan kita Tuhan turuti, tetapi yang kita butuhkan pasti Dia beri. Jangan takut berharap lebih!

HARAPAN ITU IBARAT SAUH

AGAR BIDUKMU TAK TEROMBANG-AMBING, TANCAPKAN DENGAN TEGUH


sumber: renunganharian.net - Juswantori Ichwan

- Christ & Sylvia

Minggu, 27 Maret 2011

Renungan mingguan Air Kehidupan

Renungan dari homili misa kudus Gereja Katolik Santo Petrus - Bandung

Air Kehidupan (Yoh 4:5-42)

Dalam kehidupan nyata ini, kerap kali manusia melakukan kesalahan. Baik itu tidak disengaja maupun yang disengaja. Dan seringnya manusia berusaha menutupi kesalahan yang telah mereka perbuat dengan "topeng". Jika ada sesama menegur, bukanlah hal yang jarang malahan kita yang balik marah, mati-matian membela diri dan membenarkan diri. Terus menerus menggunakan topeng bukannya meninggalkan dan memperbaiki kesalahan kita.

Dalam cerita di atas, wanita yang ditemui Yesus juga melakukan kesalahan. Wanita itu banyak berhubungan dengan lelaki yang bukan suaminya. Yesus mengetahui hal itu, dan wanita itu berkata benar mengenai dirinya. Dia mengakui kesalahan yang diperbuatnya, mau merendahkan hati dan tidak membela atau membenarkan dirinya di hadapan Tuhan Yesus. Yesus menawarkan air kehidupan yang menyelamatkan, dan dengan kejujuran dan kerendahan hati wanita itu mengakui kesalahannya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat. Kemudian wanita itu menjadi saksi dan mewartakan tentang Tuhan kepada sesamanya. Dia bercerita bagaimana Yesus membahas kehidupan pribadi wanita itu, bukan sekedar berteriak-teriak kalau Yesuslah Tuhan. Dia menjalankan tugas perutusannya dan menjadi mata air bagi sesamanya

Di jaman sekarang ini, kita juga diharapkan berhenti bertopeng. Mau jujur dan rendah hati mengakui kesalahan, belajar dan berusaha untuk kembali ke jalan yang benar. Kita dapat secara langsung mengaku dosa dalam doa kita, maupun dengan menerima sakramen pertobatan. Dan juga yang penting, setelah kita menerima "air kehidupan" dari kerendahan hati dan pertobatan kita, jangan lupa untuk "makan" makanan yang disabdakan oleh Tuhan Yesus, yaitu menjalankan segala kehendak Bapa di Surga.

shared by: Christ & Sylvia

Minggu 27 Maret 2011: Mengganti posisi Tuhan

Mengganti Posisi Tuhan? ( Yesaya 29:15-16)


Henry Morehouse adalah seorang pendeta muda yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Ribuan orang datang untuk mengalami mukjizat Tuhan dalam ibadah yang ia pimpin. Sampai suatu kali, dalam sebuah acara besar yang diadakan, semuanya tampak begitu “biasa”. Tak ada hadirat atau lawatan Tuhan, tak ada mukjizat Tuhan, tak ada kuasa Tuhan yang mengalir. Ini membuat Henry sedih. Ia berdoa dan bertanya kepada Tuhan mengapa hal itu bisa terjadi. Tuhan menjawabnya dengan membawanya melewati sebuah jalan yang penuh spanduk tentang acara tersebut. Rupanya, yang dibesar-besarkan bukan lagi nama Tuhan, melainkan namanya sendiri.

Kita mungkin juga pernah mengalami hal serupa. Saat Tuhan mulai memakai kita dengan luar biasa dan banyak jiwa diberkati lewat pelayanan kita, maka kita bisa terjebak dalam kesombongan. Kita tak lagi melihat bahwa pelayanan kita berhasil karena Tuhan—bukan karena diri sendiri. Tatkala kita mulai meninggikan diri—membuat mata semua orang tertuju kepada kita dan bukan lagi kepada Tuhan, maka Tuhan akan berdiam diri. Bisa jadi khotbah kita tetap bagus; gaya bicara kita tetap berapi-api; atau kita tetap mendapat pujian atas pelayanan kita. Semua bisa berjalan seperti biasa. Namun, pelayanan kita tidak lagi menyentuh hati atau mengubahkan hidup. Apalah artinya kita melayani dengan sangat baik, tetapi tidak memberkati jiwa-jiwa?

Adakah Tuhan masih terus menjadi pusat dari setiap pelayanan kita? Ataukah kita tengah menggeser posisi Tuhan dan ”mendu­dukinya”? Kini saatnya bertobat, agar pelayanan kita kembali menjadi berkat.

PELAYANAN SEHEBAT APA PUN TAK ADA ARTINYA

TANPA URAPAN DAN PENYERTAAN ALLAH


sumber: renunganharian.net Petrus Kwik

- Christ & Sylvia

Sabtu, 26 Maret 2011

Sabtu 26 Maret 2011: Keberuntungan

Keberuntungan ( 1 Samuel 4:1-11)


Sebagian orang percaya ada hari baik dan hari buruk. Maka, jika mereka akan mengadakan acara besar, seperti pernikahan atau peresmian gedung, mereka harus melakukan perhitungan hari lebih dulu supaya diselenggarakan pada hari baik. Ada juga orang yang percaya bahwa benda, angka, dan warna tertentu akan mendatangkan keberuntungan. Karena itu, jika mereka mengadakan acara, semuanya disesuaikan dengan hal-hal tersebut supaya beruntung.

Dalam bacaan hari ini, kepercayaan serupa sempat dipegang bangsa Israel. Saat itu Israel sedang terdesak dalam peperangan melawan bangsa Filistin. Mereka merenungkan mengapa Tuhan tidak memberkati mereka. Namun sayang, mereka bukannya sadar sudah jauh dari Tuhan dan harus bertobat. Mereka justru berkesimpulan bahwa kesalahan mereka tidak membawa simbol kejayaan mereka, yaitu tabut perjanjian Tuhan, ke medan perang. Akibatnya, mereka kalah dan tabut perjanjian dirampas bangsa Filistin.

Sebagai orang percaya, kita harus hati-hati dengan sistem kepercayaan tentang keberuntungan yang tidak alkitabiah. Jalan hidup seseorang semata-mata ada di tangan Tuhan, tidak ditentukan hari, angka, warna, benda tertentu, atau apa pun. Bahkan, tidak juga ditentukan oleh simbol-simbol keagamaan tertentu; benda-benda yang dianggap ”rohani”. Yang harus kita lakukan sebetulnya hanyalah hidup taat dan dekat dengan-Nya senantiasa. Dalam hidup yang demikian, Tuhan akan melimpahkan berkat-Nya secara utuh—jasmani dan rohani—sesuai dengan kemurahan dan kebijaksanaan-Nya.

KEBERUNTUNGAN DAN JALAN HIDUP KITA

SEMATA ADA DI TANGAN TUHAN


sumber: renunganharian.net - Alison Subiantoro

- Christ & Sylvia

Jumat, 25 Maret 2011

“Kacamata” Allah (Mazmur 73:12-28)

Saat kita melihat apa yang terjadi di dunia ini, bisa jadi kita merasa seolah-olah Tuhan tidak adil. Mengapa? Sebab Tuhan sepertinya membiarkan ketidakbenaran merajalela. Orang jahat bisa bebas melakukan kejahatan tanpa terkena hukuman. Itulah yang akan kita lihat jika melihat dunia dari ”kacamata” kita.

Pemazmur pernah mengalami hal yang sama. Ia melihat bahwa orang fasik hidup dengan makmur dan sukses (ayat 12). Sedangkan dirinya, malah tidak demikian. Itu membuatnya berpikir bahwa mempertahankan hidup benar adalah hal yang sia-sia (ayat 13). Namun semuanya berubah tatkala ia memandang hal tersebut dari sudut pandang Allah (ayat 17). Kesudahan orang fasik yang diperlihatkan kepadanya, sungguh membukakan mata (ayat 18-20). Membuatnya sadar bahwa hal paling berharga dalam dirinya adalah Allah sendiri, bukan hal-hal fana seperti yang dikejar orang fasik. Hanya Tuhan yang menjaminnya masuk dalam kemuliaan kekal, bukan kemakmuran duniawi apa pun. Itu sebabnya ia mengatakan bahwa yang ia ingini di bumi dan di surga hanyalah Allah (ayat 25, 26).

Maka, mari lihat segala sesuatu dari ”kacamata” Allah, sehingga kita dapat melihat kebenaran yang sesungguhnya. Tidak perlu kita mengingini hal-hal yang dicapai orang lain secara tidak benar. Sebab, keadilan Tuhan tidak dapat dipermainkan oleh manusia. Dengan demikian, jangan berhenti untuk selalu hidup dan berlaku benar di hadapan Allah. Walau ganjarannya tak segera tampak. Ingatlah bahwa Tuhan memberi kesudahan hidup setiap manusia, sesuai dengan kebenaran yang dihidupinya. Ganjaran-Nya selalu adil

KIRANYA HIDUP KITA TAK MENGEJAR YANG FANA SAJA

KEJARLAH TUHAN SEBAGAI HARTA YANG PALING BERHARGA

sumber: renunganharian.net - Riand Yovindra

- Christ & Sylvia