Senin, 31 Januari 2011

Rabu, 2 Februari 2011: Roti Gosong

Roti Gosong (Roma 15:7)

Ketika saya kecil, saya masih ingat, ibu suka membuat makanan untuk makan malam kami. Malam itu, ibu meletakkan di depan ayah sebuah piring berisi telur, sosis dan roti yang gosong terbakar.

Saya ingat sekali, saya menantikan reaksi semua orang, apakah mereka tahu bahwa roti ayah gosong terbakar. Tetapi ayah saya mengambil rotinya dan memakannya seperti biasa. Ia seolah tidak merasakan pahitnya roti yang gosong itu, malah ia tersenyum kepada ibu dan bertanya kepada saya, apakah saya menikmati pelajaran sekolah hari itu. Aku tidak ingat apa jawabanku malam itu kepada ayah, tetapi aku ingat ia menikmati setiap gigitan roti yang gosong itu. Ketika aku meninggalkan meja makan, aku mendengar ibu meminta maaf untuk roti yang gosong itu. Dan aku masih ingat ayah berkata, "Sayang, aku suka roti gosong."

Ketika aku memberikan ciuman kepada ayahku malam itu, aku bertanya kepadanya, "Ayah, apa ayah betul-betul suka roti gosong?" Ayah meraih dan merangkul aku dengan tangannya, dan ia berkata, "Sayang, ibumu sudah bekerja keras seharian dan dia betul-betul lelah. Di samping itu, roti gosong tidak akan pernah mencelakai siapa pun juga."

Hidup ini penuh dengan hal-hal yang tidak sempurna dan orang-orang yang tidak sempurna. Kita sendiri bukan orang yang terbaik di dalam bidang kita, ada banyak hal yang seringkali terlupakan oleh kita atau kita lakukan dengan salah, bahkan kita pernah lupa hari ulang tahun pernikahan kita sendiri, sama seperti yang juga dilakukan oleh orang lain. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menerima satu dengan yang lain apa adanya dan tidak menuntut orang lain berlaku dengan sempurna sementara kita sendiri juga masih banyak kekurangan. Yang paling penting kita lakukan di dunia ini adalah membangun hubungan yang sehat dan yang kekal, yang bertumbuh ke arah Dia.

Sikap saling menerima seperti ini tidak hanya berlaku di dalam hubungan suami-istri atau orang tua dan anak, tetapi juga dengan sesama kita di kantor, di gereja, di lingkungan kita, di kampus, dan di manapun kita berada selama masih ada manusianya dan manusia itu pasti tidak ada yang sempurna.

Dua kunci utama untuk dapat menerima orang lain apa adanya adalah:

Pertama, ingatlah bahwa Tuhan Yesus telah menerima kita apa adanya, dengan segala kekurangan dan keberdosaan kita. Kita berharga di mata-Nya dan Ia tidak melihat kita dengan segala kekurangan kita. Ia menerima kita dan terus berusaha menuntun kita menuju ke kesempurnaan.

Kedua, pikirkanlah bahwa diri kita pun juga tidak sempurna, ada atau mungkin juga banyak kekurangannya, dan kita pun bisa berbuat kesalahan yang sama dengan yang dibuat orang lain. Jangan penuhi hati dan pikiran kita dengan tuntutan, tetapi penuhilah dengan sikap penerimaan yang positif, ini akan membantu orang lain juga untuk bertumbuh lebih baik.

-Christ & Sylvia

Selasa, 1 Februari 2011

Makam Terbuka (Pengkhotbah 11:9-12:8)


Eugene Peterson, pendeta dan penerjemah Alkitab, menceritakan pengalamannya berkunjung ke biara Benediktin Kristus di Gurun. Ketika hendak makan siang, mereka melewati kompleks pemakaman. Anehnya, di situ ada satu makam yang terbuka. Eugene menanyakan siapa anggota biara yang baru saja meninggal. ”Tidak ada,” jawab orang yang mengantarnya. ”Makam itu disiapkan untuk siapa saja yang meninggal berikutnya.” Begitulah, tiga kali sehari, setiap kali mereka berjalan menuju ruang makan, anggota biara itu diingatkan akan perkara yang lebih sering kita tepiskan: kematian. Salah satu dari mereka mungkin akan menjadi yang berikutnya.

Budaya dunia cenderung menepiskan kematian. Banyak dongeng tentang batu bertuah yang dapat membuat orang awet muda atau hidup abadi. Di dunia modern, aneka produk anti penuaan juga menjamur. Kita diiming-imingi ilusi untuk menikmati kehidupan ini selama mungkin dan dalam kondisi tubuh sebugar mungkin. Firman Tuhan, sebaliknya, sangat realistis.

Pengkhotbah mendorong kaum muda untuk menikmati kemudaannya, tetapi sekaligus menyodorkan fakta akan kematian kepada mereka. Kematian bisa menjemput kapan saja. Tanpa memandang umur kita. Tanpa memandang kondisi tubuh kita. Tanpa kita duga-duga.

Pengkhotbah pun menawarkan resep hidup yang jitu: ”Ingatlah akan Penciptamu.” Ingatlah bahwa hidup ini hanya ”barang pinjaman”. Perlakukanlah secara bijaksana. Dan, karena kita tidak pernah tahu kapan masa pinjam itu habis, perlakukanlah setiap hari seolah-olah itu hari yang terakhir. Bagaimana kiranya kita akan menjalani hari terakhir kita?

BAYANG-BAYANG KEMATIAN JUSTRU DAPAT MENYADARKAN KITA

AKAN BETAPA BERHARGANYA KEHIDUPAN INI


sumber: www.renunganharian.net - Arie Saptaji

-Christ & Sylvia

Senin, 31 Januari 2011: Tuntutan

Tuntutan (Lukas 12:47,48)


Saya memiliki seorang teman yang menjadi kepala sekolah. Ia adalah orang yang sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Gaji guru dan karyawan beberapa kali dinaikkan agar standar hidup mereka membaik. Namun, di sisi lain ia pun menuntut agar semua karyawan dapat memberikan yang terbaik untuk sekolah tersebut. Ia tidak segan-segan untuk marah dan menegur karyawan yang malas dan tidak melakukan hal yang seharusnya.

Dalam bacaan hari ini, Tuhan Yesus berbicara tentang tuntutan; siapa yang diberi banyak akan dituntut banyak pula. Itu sudah hukumnya. Tuhan tidak akan pernah memberikan sesuatu kepada manusia, apabila hal itu akan mereka sia-siakan. Dia akan menuntut pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang diberikan kepada kita. Ini bukan berarti Tuhan tidak rela memberikannya kepada kita, melainkan Dia ingin agar semua yang ada pada kita dapat dipakai secara maksimal sesuai dengan tujuan yang Allah kehendaki. Dan, tentunya Allah tidak akan sembarangan memberikan sesuatu kepada manusia. Allah tidak akan memberi cangkul kepada pemain sepak bola, atau gergaji kepada tukang masak. Allah tetap akan memberikan bola kepada pemain sepak bola dan gergaji kepada tukang kayu. Selanjutnya, Allah akan menuntut agar bola dan gergaji itu digunakan secara maksimal oleh masing-masing pribadi tersebut.

Seberapa besar kita menyadari segala pemberian Tuhan dan seberapa besar kita memahami tuntutan-Nya? Bagaimana dengan waktu, kepintaran, talenta atau bakat, bahkan harta yang Tuhan berikan kepada kita? Apakah kita sudah menggunakannya sesuai tuntutan Allah?

INGATLAH BAHWA KETIKA SUATU BERKAT DIBERIKAN

BERARTI ADA MANDAT DI DALAMNYA YANG MESTI KITA KERJAKAN


Sumber: www.renunganharian.net - Riand Yovindra

-Christ & Sylvia

Minggu, 30 Januari 2011

Minggu, 30 Januari 2011: Allah Yang Mahakudus

Allah Yang Mahakudus(Keluaran 20:18-21)



Bayangkan Anda sedang mengikuti sebuah ibadah. Sayangnya, dua jemaat yang duduk di depan Anda asyik berbisik-bisik. Sementara itu, jemaat lain yang duduk di belakang Anda sesekali tertawa cekikikan bersama teman di sebelahnya. Dan, ketika doa sedang dipanjatkan, sebuah telepon genggam berdering membuyarkan kekhusyukan ibadah yang sedang berlangsung.

Kini, coba kita beralih membayangkan suasana yang sama sekali berbeda, seperti yang diceritakan oleh apa yang kita baca hari ini. Saat itu segenap bangsa Israel sedang berkumpul untuk menghadap Tuhan. Dan, di hadapan-Nya, mereka semua gentar menyaksikan kekudusan dan kemuliaan-Nya. Begitu gentarnya mereka sampai-sampai mereka meminta Musa agar mewakili mereka. Dapat dipastikan saat itu tak seorang pun berani berbicara sendiri satu sama lain dan mengabaikan Allah.

Allah yang disaksikan bangsa Israel itu sesungguhnya sama dengan Allah yang kita hampiri setiap Minggu dalam ibadah di gereja. Dia adalah Allah Yang Mahakudus. Benar, karya Kristus memungkinkan kita untuk menghampiri Dia dengan penuh keberanian saat ini (Ibrani 4:16). Akan tetapi, itu bukan berarti kita kemudian tidak perlu menghormati-Nya, dan boleh mengabaikan-Nya dengan tidak sungguh-sungguh berkonsentrasi selama ibadah. Ibadah adalah pertemuan kita dengan Allah sendiri Yang Mahakudus. Itu sebabnya kita harus senantiasa mengarahkan seluruh hati, pikiran, dan perhatian hanya kepada-Nya—saat menyanyikan lagu pujian, mendengarkan firman Tuhan, dan mengikuti seluruh rangkaian ibadah yang kita hadiri.

SEBAB ALLAH YANG KITA SEMBAH MAHAKUDUS

KIRANYA TUBUH DAN HATI KITA PUN SEDIA BERSUJUD


sumber: www.renunganharian.net - Alison Subiantoro

-Christ & Sylvia

Kamis, 27 Januari 2011

Jumat, 28 Januari 2011: Hati yang Berbelas Kasih

Hati yang Berbelas Kasih (Ester 4:7-16)


Pada 26 Oktober 2010, Gunung Merapi di Yogyakarta kembali bergolak. Banyak orang di lereng Merapi berupaya menyelamatkan diri. Namun, satu keluarga tak dapat mengungsi karena terjebak di rumah mereka. Pada malam mencekam itu, seorang pemuda bernama Pandu Bani Nugraha mendengar berita itu. Ia segera mengupayakan evakuasi bersama dua rekannya. Sayang, debu vulkanik yang begitu tebal menutup jalan menghentikan niat dua rekannya. Akhirnya, hanya Pandu yang tetap bertekad naik untuk melakukan evakuasi. Pandu hanya memiliki satu keinginan: agar semua anggota keluarga itu dapat diselamatkan, tanpa memperhatikan keselamatan dirinya.

Posisi Pandu saat itu serupa dengan yang dialami Ester. Haman, yang diberi kedudukan tinggi oleh Raja Ahasyweros, ingin membunuh semua orang Yahudi. Ester, yang juga seorang Yahudi dan telah diangkat sebagai ratu, menjadi satu-satunya harapan yang bisa menyelamatkan bangsa Yahudi. Namun, itu berarti ia harus berani menanggung risiko berat, sebab tak seorang pun diizinkan berbicara kepada raja apabila raja tidak memanggil. Risikonya adalah hukuman mati. Dan, Ester sungguh-sungguh mengambil risiko itu. Dengan dukungan dari seluruh bangsa Yahudi—yang berpuasa dan berdoa baginya.

Pengalaman Pandu dan Ester ini mengajak kita untuk punya hati yang berbelas kasih kepada sesama. Tak banyak orang yang terpanggil untuk melayani sesama dengan sepenuh hati, dengan menyingkirkan egoisme diri. Adakah orang yang membutuhkan uluran tangan dan kepedulian Anda saat ini? Ambillah bagian untuk melakukan sesuat.

IZINKAN TUHAN MENYENTUH HATI ANDA DENGAN KASIH BAGI SESAMA


sumber: www.renunganharian.net G. Dyah Paramita P.K.

-Christ & Sylvia

Kamis, 27 Januari 2011: Pakaian Kerajaan

Pakaian Kerajaan (2 Kor 5:17)




"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."

Suatu hari seorang pengemis yang tinggal di pelataran istana melihat pengumuman yang ditempel di tembok istana. "Setiap orang yang memakai pakaian kerajaan boleh mengikuti perjamuan". Pengemis itu memandang tubuhnya yang dibalut pakaian lusuh dan berpikir, "tidak mungkin aku bisa ikut dalam perjamuan itu". Namun ia tidak kehabisan akal, ia mendekati penjaga istana dan mengutarakan keinginannya untuk datang ke perjamuan. Penjaga mengijinkan pengemis itu masuk dan bertemu raja. Raja pun berkata, "engkau ingin bertemu aku?", "Benar yang mulia, aku ingin mengikuti perjamuan yang tuan adakan tapi aku tidak punya pakaian kerajaan" kata si pengemis.

Akhirnya raja memanggil putranya, "Bawa pengemis itu ke kamarmu, dan berikan kepadanya pakaian kerajaan yang kaumiliki." Lalu putra raja berkata pada si pengemis " dengan pakaian itu engkau dapat menghadiri perjamuan, tetapi setelah engkau memakai pakaian kerajaan ini, kau tidak boleh memakai lagi pakaian yang lain lagi". "Ok terima kasih" kata si pengemis. Tetapi ketika hendak keluar istana, ia melihat pakaian kumal nya lagi dan ia mulai ragu , "bagaimana kalau aku memerlukan lagi pakaian itu" pikirnya, maka ia pun membawa pulang lagi pakaian kumal itu.

Ketika tiba malam perjamuan, pengemis itu datang dengan pakaian kerajaan, tetapi dia membawa pakaian kumalnya dalam kantong plastik. Semua mata tertuju pada bungkusan itu, mereka menganggap itu sesuatu yang tidak pantas. Raja memandangnya dengan sedih dan saat itu pengemis baru ingat pesan putra raja bahwa ia tidak memerlukan pakaian lamanya.

Sebagai orang percaya kita telah diundang masuk dalam keluarga Tuhan dan menikmati hak istimewa sebagai anak-anak Raja. Penebusan melalui darah Yesus itulah yang menjadi "pakaian kerajaan" yang melayakkan kita untuk bisa datang kepada Bapa. Tetapi, syaratnya adalah meninggalkan cara hidup yang lama, segala macam dosa dan kebiasaan dari orang yang tidak mengenal Tuhan. Begitu banyak orang yang sudah menerima Kristus tapi masi hidup dengan cara lama. Biarlah kita terus mengenakan "pakaian kerajaan" dengan hidup dalam kebenaran.

dikutip dari manasorgawi
-Christ & Sylvia

Rabu, 26 Januari 2011